DENPASAR – PT Esensi Solusi Buana (ESB), perusahaan penyedia ekosistem teknologi Food & Beverage (F&B) terintegrasi terbesar di Indonesia yang meraih penghargaan Forbes Asia 100 to Watch 2025, menggelar forum diskusi bertajuk "Kopdar Racik Bisnis F&B" di Bali. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian roadshow nasional dengan tema "Meramu Strategi Tepat, Bisnis Kuliner Semakin Kuat", menjadikan Pulau Dewata sebagai perhentian kedua setelah sebelumnya sukses diselenggarakan di Bandung dengan menjaring lebih dari seribu pendaftar dari kalangan pengusaha kuliner.
Pemilihan Bali sebagai lokasi roadshow bukan tanpa alasan. Sebagai destinasi wisata bertaraf internasional, pelaku usaha kuliner lokal di pulau ini menghadapi tantangan berat untuk bersaing dengan merek-merek mancanegara, terutama di tengah dinamika pergeseran daya beli konsumen. ESB menilai langkah ini krusial guna membantu pebisnis kuliner domestik mempertahankan margin keuntungan sekaligus meningkatkan daya saing mereka secara berkelanjutan.
Heru Dwi Soesilo, pendiri 2080 Burger yang tampil sebagai salah satu narasumber, mengungkapkan persoalan klasik yang kerap dihadapi pelaku usaha di Bali. Menurutnya, pada musim liburan atau jam-jam puncak kunjungan, antrian panjang di kasir kerap membuat pelanggan kehilangan kesabaran dan beralih ke tempat lain. Solusi hadir melalui teknologi ESB Order, di mana konsumen cukup duduk di meja, memindai kode QR, memilih menu, dan menyelesaikan pembayaran melalui dompet digital tanpa harus mengantre.
"Proses ini memangkas waktu tunggu hingga setengahnya dan mempercepat perputaran meja, sehingga omzet harian meningkat tanpa perlu investasi tambahan mesin kasir. Yang menarik, sistem ini sama sekali tidak mengikis kehangatan hospitality khas Bali. Justru karena tugas-tugas repetitif kasir diambil alih teknologi, staf kami punya lebih banyak waktu untuk menyapa dan membangun kedekatan dengan pengunjung," ungkap Heru dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Sabtu (27/6).
Senada dengan Heru, Mas Munir selaku pemilik Kopi Jenar dan pegiat kopi lokal Bali turut menyoroti tantangan operasional yang selama ini menjadi sumber kekhawatiran. Ia menegaskan bahwa tingginya arus kunjungan wisatawan asing ke Bali tidak serta-merta menjamin keuntungan apabila terdapat kebocoran di sisi operasional.
"Sebelum mengadopsi ESB, tekanan terbesar saya adalah mengelola stok bahan baku yang tidak akurat. Catatan teoritis menunjukkan persediaan biji kopi atau sirup masih tersedia, namun kenyataan di lapangan sudah habis. Dengan integrasi ESB POS dan ESB Core sebagai sistem ERP, setiap cangkir kopi yang terjual kini secara otomatis memotong gramasi stok di gudang dengan presisi tinggi. Angka pemborosan terlihat jelas, kebocoran dapat dikunci, dan saya bisa memantau laporan penjualan langsung dari ponsel," papar Munir.
Gunawan, Co-Founder sekaligus CEO ESB, menjelaskan bahwa di era yang dikenal sebagai Lipstick Effect, pasar F&B Bali masih menyimpan potensi pertumbuhan signifikan bagi pelaku usaha yang ditopang sistem operasional mumpuni. Ia mencatat bahwa masyarakat dan wisatawan di Bali tetap aktif menikmati kuliner di luar rumah, namun kini jauh lebih cermat dalam menilai kesepadanan antara harga dan kualitas yang diterima.
"Fluktuasi harga bahan baku global menjadi tantangan tersendiri yang menggerus margin keuntungan secara tidak kasat mata. Dalam kondisi seperti ini, pengelolaan operasional secara manual memiliki keterbatasan dalam merespons pasar yang bergerak cepat. Digitalisasi operasional berbasis data real-time bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan fondasi penting untuk menjaga ketahanan bisnis dan memastikan keberlanjutan usaha," tegasnya.
Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, ESB menghadirkan tiga infrastruktur digital unggulan yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Pertama, ESB POS yang menjamin keandalan manajemen kasir serta akurasi pencatatan transaksi harian di lini depan. Kedua, ESB Order yang memodernisasi pengalaman konsumen melalui sistem pemesanan mandiri berbasis scan-order-pay, mampu memangkas waktu antrian hingga 40 persen. Ketiga, ESB Core sebagai sistem ERP yang menyediakan visibilitas data stok secara real-time, menekan biaya pemborosan bahan baku secara otomatis, serta mendeteksi erosi margin sebelum mencapai titik kritis.
Forum ini dirancang sebagai wadah diskusi, sesi mentoring, dan bedah studi kasus yang secara khusus menyasar para pemilik, pendiri, serta pengambil keputusan di bisnis kuliner. Bali menjadi pemberhentian kedua dari total sepuluh kota yang akan dikunjungi sepanjang tahun 2026, membentang dari Medan hingga Makassar. Program ini juga membuka ruang kolaborasi dengan komunitas bisnis lokal seperti PKID, TDA, dan berbagai asosiasi kuliner daerah.
Pelaksanaan roadshow ini didukung oleh sejumlah mitra strategis. BCA hadir sebagai Official Payment Partner yang memperkuat ekosistem pembayaran melalui platform OCEAN by BCA, mengintegrasikan EDC dan QRIS langsung dengan sistem kasir ESB POS. GoApp menyediakan solusi Customer Relationship Management berbasis kecerdasan buatan untuk meningkatkan repeat order melalui personalisasi kampanye pemasaran. Sementara IWARE menyokong dari sisi perangkat keras yang dirancang khusus untuk mendukung kecepatan ekosistem ESB.
"Keberlanjutan industri F&B di Bali kini tidak hanya bertumpu pada produktivitas di dapur, melainkan juga pada seberapa optimal kita mengelola data operasional bisnis. Keunikan serta autentisitas rasa lokal, jika dipadukan dengan tata kelola teknologi berstandar internasional, akan mampu tampil unggul dan berdaya saing tinggi. Bersama ESB, mari kita ubah setiap tantangan menjadi peluang dan menjadi tuan rumah yang sukses di pasar sendiri," pungkas Gunawan.