Saham PT Indosat Tbk (ISAT) mencatat lonjakan signifikan sebesar 15 persen dalam sepekan setelah resmi meluncurkan proyek ambisius Zankore by Indosat pada awal Agustus 2026. Langkah ini menandai keseriusan emiten telekomunikasi tersebut dalam merambah teknologi masa depan melalui pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) generasi terbaru di kawasan Asia-Pasifik, berkolaborasi dengan raksasa teknologi global seperti Ooredoo Group, Nvidia Corporation (NVDA), dan Nokia.
Zankore dirancang sebagai konsep AI Factory, sebuah pusat pemrosesan data terintegrasi berskala masif yang mengubah data mentah menjadi produk komputasi kecerdasan buatan siap pakai. Proyek ini ditargetkan memiliki kapasitas daya hingga 1 Gigawatt (GW), menjadikannya sebagai fasilitas AI Factory terbesar di Asia Tenggara. Pada tahap awal yang dijadwalkan rampung pada semester pertama tahun 2027, infrastruktur ini akan mengoperasikan kapasitas 200 Megawatt (MW) dengan sokongan teknologi GPU NVIDIA GB300 NVL72 serta sistem optimalisasi daya dinamis MaxLPS untuk memaksimalkan efisiensi komputasi hingga 40 persen.
Secara struktur kepemilikan, Ooredoo Group memegang 49 persen saham sekaligus bertindak sebagai sponsor modal jangka panjang. Sisa 51 persen saham dimiliki secara konsorsium oleh ISAT, Nvidia, dan Nokia, dengan porsi kepemilikan ISAT diperkirakan berkisar antara 15 hingga 30 persen. Sinergi ini menggabungkan keunggulan kompetitif masing-masing entitas: Ooredoo di sektor pendanaan regional, Nvidia pada penyediaan unit pemrosesan grafis (GPU) mutakhir, dan Nokia pada aspek keamanan jaringan berkinerja tinggi.
Analisis riset pasar memproyeksikan potensi keuangan yang cukup menjanjikan dari proyek ini. Zankore ditargetkan meraup pendapatan akumulatif sebesar 13 miliar dolar AS dalam kurun waktu lima tahun. Dengan asumsi kepemilikan ISAT sebesar 30 persen, proyek ini diperkirakan mampu berkontribusi sebesar Rp8,8 triliun terhadap ekuitas perseroan, serta berpotensi menyumbang laba bersih tambahan bagi ISAT sebesar Rp1,4 triliun per tahun mulai tahun buku 2028.
Kendati demikian, realisasi laba tersebut dibayangi oleh risiko biaya operasional dan depresiasi aset yang sangat tinggi, berkaca pada kinerja emiten penyedia layanan serupa di pasar global seperti CoreWeave di bursa Nasdaq. Meskipun CoreWeave mencatat pertumbuhan pendapatan operasional yang luar biasa, perusahaan tersebut masih membukukan kerugian bersih akibat tingginya beban penyusutan nilai perangkat keras komputasi yang mahal serta biaya bunga pinjaman untuk ekspansi. ISAT dinilai memiliki sedikit keunggulan karena komitmen modal awal dari mitra strategis meminimalkan kebutuhan utang baru yang berisiko membebani keuangan perusahaan.
Dengan mempertimbangkan volatilitas harga saham ISAT saat ini serta ketidakpastian pasar AI global yang dinamis, para analis menyarankan strategi investasi yang lebih defensif. Target harga saham ISAT diperkirakan berada di kisaran Rp2.700 hingga Rp3.600 per lembar saham. Investor jangka panjang disarankan untuk menunggu momentum konsolidasi harga guna meminimalisasi risiko biaya tinggi sebelum memutuskan masuk ke saham ini secara agresif.