Kementerian Koperasi (Kemenkop) mendorong koperasi kelapa sawit di Indonesia untuk tidak lagi sekadar menjual Tandan Buah Segar (TBS), melainkan mulai merambah ke industri pengolahan minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO). Langkah strategis ini ditandai dengan peresmian Pabrik Kelapa Sawit (PKS) milik KUD Sejahtera di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.
Dalam jangka pendek, pemerintah menargetkan pembangunan sedikitnya 40 pabrik CPO berbasis koperasi dalam kurun waktu satu hingga dua tahun ke depan. Kebijakan ini diharapkan mampu memperkuat posisi tawar petani kelapa sawit swadaya serta mempercepat proses hilirisasi industri sawit nasional di tingkat tapak.
Deputi Pengembangan Usaha Koperasi Kemenkop, Panel Barus, menegaskan bahwa koperasi harus menjadi aktor utama dalam rantai pasok kelapa sawit. Selain mengelola kebun mandiri, koperasi juga disiapkan untuk mengelola lahan sitaan negara melalui kemitraan strategis bersama pihak swasta, seperti PT Agrinas Palma Nusantara. Langkah ini dinilai selaras dengan mandat konstitusi UUD 1945 Pasal 33 yang menekankan asas kekeluargaan dalam ekonomi nasional.
Keberhasilan program ini membutuhkan sinergi erat dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), lembaga pembiayaan, hingga sektor swasta. Integrasi ini penting untuk memastikan keberlanjutan pasokan dan kualitas CPO yang dihasilkan oleh koperasi.
Sementara itu, Menteri Koperasi Ferry Juliantono menyatakan bahwa pengoperasian PKS oleh koperasi seperti KUD Sejahtera membuktikan kemampuan rakyat dalam mengelola bisnis dari hulu ke hilir secara mandiri. Dengan menguasai unit pengolahan, keuntungan dari industri kelapa sawit dipastikan akan berputar kembali untuk meningkatkan kesejahteraan para anggota koperasi.