Dalam upaya meningkatkan efisiensi dan pendapatan petani kelapa sawit swadaya, SawitPRO memperkenalkan ekosistem digital terintegrasi yang memadukan keahlian agronomi dengan teknologi seluler. Inovasi ini dipaparkan langsung oleh CEO SawitPRO, Abhishek Singh, dalam forum International Oil Palm Smallholder (IOPS) 2026 yang berlangsung di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur. Langkah digitalisasi ini diharapkan mampu menjembatani kesenjangan produktivitas kebun rakyat di Indonesia.
Abhishek mengungkapkan bahwa saat ini terdapat selisih yang cukup lebar antara produktivitas aktual kebun kelapa sawit rakyat dengan potensi maksimalnya. Rata-rata produktivitas saat ini baru mencapai 2,2 ton Crude Palm Oil (CPO) per hektare, padahal potensinya bisa dioptimalkan hingga 2,75 ton CPO per hektare. Dengan memanfaatkan teknologi digital untuk pengelolaan kebun yang lebih terukur, terdapat peluang peningkatan hasil panen sebesar 25 persen tanpa harus membuka lahan baru.
Jika peningkatan produktivitas sebesar 25 persen ini terealisasi secara nasional, dampak ekonominya sangat signifikan. SawitPRO memproyeksikan adanya tambahan produksi hingga 3,8 juta ton CPO per tahun. Kontribusi ini berpotensi menyumbang penerimaan negara sebesar US$3,4 s.d. miliar dari sektor ekspor dan pajak, serta memberikan sumbangsih sekitar 0,25 persen terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Guna mewujudkan target tersebut, SawitPRO merancang aplikasi berbasis telepon genggam (mobile-first) yang mudah diakses oleh petani di lapangan. Salah satunya adalah PetaniPRO, sebuah aplikasi manajemen kebun yang memuat fitur pencatatan panen, jadwal perawatan, dan kalkulator dosis pupuk. Selain itu, petani juga difasilitasi layanan Dokter Sawit untuk berkonsultasi langsung dengan ahli agronomi, serta Toko Sawit yang berfungsi sebagai marketplace penyedia sarana produksi pertanian dengan harga kompetitif.
Tidak hanya menyasar petani secara individu, transformasi digital ini juga menyentuh kelembagaan koperasi melalui KUDPRO. Fitur ini dirancang untuk membantu Koperasi Unit Desa (KUD) mengelola administrasi operasional secara transparan dan rapi. Sistem ini mempermudah koperasi dalam mengumpulkan data untuk keperluan sertifikasi keberlanjutan maupun pengajuan program bantuan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).
Melalui ekosistem digital yang menghubungkan sektor hulu hingga hilir ini, SawitPRO berkomitmen menciptakan industri kelapa sawit yang berkelanjutan. Upaya ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kesejahteraan ekonomi para petani secara nyata, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan demi masa depan industri komoditas strategis nasional.