Upaya memperkuat daya saing manufaktur nasional di kancah global terus dipacu oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Salah satu langkah strategis yang kini tengah diakselerasi adalah integrasi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) pada sektor farmasi, yang menjadi salah satu prioritas utama dalam peta jalan Making Indonesia 4.0.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa adopsi teknologi digital terkini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan operasional. Pemanfaatan AI dinilai vital untuk mendongkrak efisiensi dan produktivitas, sekaligus menjaga keunggulan kompetitif industri kimia dan farmasi Tanah Air di pasar internasional.
Guna mewujudkan visi tersebut, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) melalui Pusat Industri Digital Indonesia 4.0 (PIDI 4.0) menggandeng PT NEC Indonesia dan mitra lokal Bogor Technology. Kolaborasi ini memfasilitasi program Proof of Concept (PoC) berbasis System Invariant Analytics Technology (SIAT) yang diuji coba langsung di fasilitas produksi PT Kalbe Farma Tbk.
Kepala BPSDMI Doddy Rahadi menjelaskan bahwa skema PoC memberikan ruang bagi pelaku industri untuk menguji keandalan solusi digital dalam kondisi operasional riil sebelum diimplementasikan secara luas. Mengandalkan kombinasi AI dan machine learning, sistem SIAT mampu memantau kondisi mesin secara real-time serta menjalankan pemeliharaan prediktif (predictive maintenance) untuk mencegah potensi kerusakan yang berisiko menghentikan proses produksi.
Uji coba yang berlangsung sepanjang April hingga Juni ini membuahkan hasil positif dengan raihan skor kepuasan 8 dari 10 dari PT Kalbe Farma Tbk. Keberhasilan PoC ini dinilai oleh pihak PT NEC Indonesia dan manajemen Kalbe Farma sebagai tonggak penting dalam perancangan ekosistem digital manufaktur yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan di Indonesia.