PT Martina Berto Tbk (MBTO) memasang target pemulihan kinerja yang lebih agresif pada 2026 setelah menutup tahun buku 2025 dengan penjualan Rp401,5 miliar. Emiten kosmetik nasional yang berada di bawah Martha Tilaar Group itu menyiapkan sejumlah strategi untuk memperbaiki profitabilitas dan memperkuat pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.
Agenda tersebut mengemuka dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), serta Paparan Publik Tahunan 2026 yang digelar perseroan. Dalam RUPST, pemegang saham menyetujui laporan tahunan perseroan, termasuk laporan keuangan konsolidasian untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025.
Sementara itu, melalui RUPSLB, pemegang saham memberikan persetujuan atas perubahan Anggaran Dasar Perseroan. Perubahan tersebut terutama menyangkut penyesuaian Pasal 3 mengenai maksud, tujuan, dan kegiatan usaha perseroan agar selaras dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia atau KBLI 2025.
Sepanjang 2025, MBTO mencatat penjualan sebesar Rp401,5 miliar dengan laba kotor Rp158,9 miliar. Margin laba kotor perseroan berada di level 39,58 persen, sementara EBITDA tercatat Rp12,1 miliar. Di tengah tekanan pasar dan dinamika industri kecantikan, perseroan menyatakan tetap menjalankan disiplin biaya serta pengendalian operasional sebagai pijakan untuk memperbaiki kinerja.
Memasuki 2026, Martina Berto menargetkan penjualan mencapai Rp501,82 miliar, atau naik sekitar 24,98 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya. Perseroan juga membidik EBITDA Rp61 miliar, laba usaha Rp48 miliar, serta laba setelah pajak Rp24,8 miliar. Target tersebut diharapkan ikut mendorong perbaikan rasio-rasio keuangan hingga akhir tahun.
Presiden Direktur PT Martina Berto Tbk, Bryan David Emil, menyebut 2026 sebagai periode penting untuk memperkuat kualitas pertumbuhan. Menurut dia, langkah perseroan akan difokuskan pada penguatan kanal penjualan, inovasi produk, efisiensi, dan sinergi di dalam ekosistem bisnis Martha Tilaar Group.
“Fokus kami pada tahun 2026 adalah mendorong pertumbuhan yang lebih sehat dan terukur melalui penguatan kanal digital dan online, inovasi produk yang relevan dengan kebutuhan konsumen, pengembangan pasar ekspor, serta peningkatan kontribusi unit usaha strategis Perseroan,” ujar Bryan.
Ia menambahkan, penguatan fondasi operasional menjadi salah satu kunci agar perseroan dapat melanjutkan momentum pemulihan. Dengan strategi tersebut, manajemen optimistis MBTO mampu menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya.
Untuk mengejar sasaran tersebut, MBTO akan mempercepat transformasi digital penjualan, mengembangkan produk berbasis natural dan halal, memperkuat pasar ekspor, serta meningkatkan efisiensi rantai pasok. Perseroan juga menyiapkan optimalisasi harga jual, digitalisasi proses kerja, dan peningkatan kontribusi dari entitas anak.
Sinergi bisnis turut diperkuat melalui PT Tara Parama Semesta yang mengelola jaringan Martha Tilaar Shop (MTS), serta PT Cedefindo sebagai entitas manufaktur kosmetik. Kedua entitas tersebut diharapkan mendukung kemampuan produksi, distribusi, dan pengembangan usaha perseroan secara konsolidasi.
Sebagai perusahaan kecantikan nasional yang telah beroperasi lebih dari lima dekade, Martina Berto menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan inovasi berbasis bahan alam Indonesia. Perseroan juga menempatkan pemanfaatan teknologi digital dan penerapan tata kelola perusahaan yang baik sebagai bagian dari upaya menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan.