JAKARTA — Permainan domino yang selama puluhan tahun lekat dengan stigma perjudian dan taruhan kini mengalami transformasi luar biasa. Di bawah naungan Perkumpulan Olahraga Domino Indonesia (PORDI), aktivitas yang dulu kerap dimainkan di pos ronda dan warung kopi ini telah menjelma menjadi cabang olahraga pikiran (mind sport) bergengsi yang dipertandingkan secara profesional di tingkat nasional maupun internasional.

Bukti nyata perubahan tersebut tampak dalam gelaran Jakarta Domino Tournament (JDT) 2026 Series 2 yang berlangsung pada Sabtu-Minggu (27-28/6/2026) di Aula Lantai 3 GOR Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Turnamen ini berhasil menyedot 1.024 peserta atau 512 pasangan yang berasal dari 20 provinsi se-Indonesia, menjadikannya salah satu ajang kompetisi domino terbesar di Tanah Air.

Ketua Umum PB PORDI, Dr Andi Jamaro Dulung — yang juga merupakan mantan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) — membuka turnamen tersebut secara resmi. Tokoh asal Makassar ini menegaskan bahwa JDT 2026 Series 2 memiliki peranan krusial sebagai momentum pemanasan menuju Festival Olahraga Rekreasi Nasional (Fornas) 2027 yang akan digelar di Palu, Sulawesi Tengah.

"PORDI yang tadinya adalah organisasi kampung, berada di tempat-tempat terpencil, di bawah pohon, di pinggir sungai, di warung-warung kopi. Hari ini kita sudah angkat derajatnya, naik pada level tertinggi. Semua gedung terbaik di Indonesia sudah bisa dimasuki oleh pemain domino," ujar Andi Jamaro.

Kehadiran ribuan peserta dari berbagai penjuru Nusantara turut memberikan dampak ekonomi signifikan bagi Jakarta. Menurut Andi, seluruh hotel di kawasan Rawamangun dan sekitar UNJ dilaporkan terisi penuh selama turnamen berlangsung. Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar lokasi pun ikut meraup keuntungan, sementara pusat perbelanjaan dan tempat makan dipenuhi pengunjung. Dalam dua hari penyelenggaraan, perputaran uang diperkirakan menembus angka Rp6 miliar, menciptakan efek ekonomi sirkular yang luar biasa.

Ketua PB PORDI, Purwanto M Ali, menekankan pentingnya mengubah persepsi negatif masyarakat terhadap domino. Ia memaparkan bahwa PORDI kini telah hadir di 21 provinsi dan 179 kabupaten/kota, dengan komunitas yang berjumlah lebih dari 2.000. "Jadi perlu mengubah persepsi negatif masyarakat. Lewat domino bisa kita dorong untuk kesejahteraan sosial," kata senior GP Ansor ini.

Purwanto menjelaskan bahwa transformasi domino bukan sekadar mengubah cara bermain, melainkan juga mengubah cara pandang masyarakat secara menyeluruh. Permainan ini kini mengedepankan strategi, konsentrasi, kerja sama tim, sportivitas, dan etika pertandingan. Bahkan, domino telah menjadi objek kajian akademik di sejumlah perguruan tinggi, menandai pengakuan dunia pendidikan terhadap nilai intelektual yang terkandung di dalamnya.

Rangkaian acara JDT 2026 Series 2 juga didahului oleh Seminar Nasional bertajuk "Olahraga Domino dalam Perspektif Holistik: Integrasi Sport Science, Kesehatan, Sport Industry, Budaya dan Sosial Menuju Indonesia Emas" yang digelar di lokasi yang sama pada Jumat (26/6/2026). Seminar ini menjadi wadah diskusi ilmiah untuk memperkuat landasan akademis pengembangan olahraga domino di Indonesia.

Manajer Event sekaligus Ketua Litbang PB PORDI, Dr Wahyu Irfandi, mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan respons sangat positif pascaaudiensi terkait JDT 2026. Pemprov DKI berencana mengintegrasikan pembinaan olahraga domino ke dalam program unggulan "Jaga Jakarta", sehingga domino berpotensi menjangkau masyarakat hingga ke tingkat Rukun Warga (RW) melalui komunitas dan klub yang tersebar di setiap kelurahan.

Wahyu menegaskan kesiapan PB PORDI untuk bersinergi dengan agenda Gubernur Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno dalam mengoptimalkan empat pilar program "Jaga Jakarta" melalui medium olahraga domino. Keempat pilar tersebut meliputi Jaga Warga untuk pencegahan tawuran dan narkoba, Jaga Lingkungan untuk kebersihan dan tata ruang, Jaga Aturan untuk edukasi hukum, serta Jaga Amanah untuk transparansi pelayanan aparat.

Dengan antusiasme yang terus membesar dari masyarakat di seluruh Indonesia, domino tampaknya telah berhasil melampaui sekadar fungsi hiburan. Olahraga pikiran ini kini menjadi instrumen pembangunan sosial yang mampu meleburkan sekat suku, agama, ras, dan jabatan dalam semangat kebersamaan dan sportivitas, sekaligus menggerakkan roda perekonomian masyarakat secara nyata.