Suasana latihan di sebuah sanggar di Purwokerto, Jawa Tengah, pada Selasa (7/7) malam tampak berbeda dari biasanya. Sejumlah anak muda yang sebagian besar masih awam dalam dunia tari, terlihat antusias mengikuti setiap instruksi. Gelak tawa dan canda yang sesekali pecah di sela-sela latihan, menciptakan atmosfer positif yang jauh dari kesan kaku.

Sesi latihan tersebut dipandu langsung oleh koreografer muda berbakat, Dede Yuan Firmanto. Pria berusia 29 tahun yang akrab disapa Yuanfi ini dikenal memiliki kesabaran tinggi dalam membimbing para pemula mendalami teknik tari modern. Bagi Yuanfi, tarian bukan sekadar olah tubuh, melainkan medium efektif untuk menjaga kesehatan mental dan membangun koneksi sosial.

Perjalanan artistik Yuanfi dimulai sejak usia lima tahun secara autodidak. Ketertarikannya bermula saat ia menyaksikan penampilan penyanyi cilik Maissy dan Agnes Monica. Gerak tubuh yang ritmis dari kedua idolanya tersebut memicu insting menarinya, yang kemudian berkembang menjadi kombinasi seni tari dan vokal.

Bakat tersebut rupanya mengalir dari sang ibu yang juga seorang penari di masa mudanya. Meski mendapat dukungan penuh dari sang ibu, perjalanan karier Yuanfi tidak selalu mulus. Ia sempat menghadapi hambatan berupa tentangan dari sang ayah serta pandangan sinis dari lingkungan sekitar terkait pilihannya untuk menekuni dunia seni tari.

Melalui dedikasinya saat ini, Yuanfi ingin membuktikan bahwa menari memiliki dampak positif bagi kesejahteraan psikologis. Ia berharap melalui bimbingannya, generasi muda tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga mampu menemukan kebahagiaan dan kepercayaan diri lewat gerak tari.