Danantara Indonesia secara resmi memulai pembangunan proyek strategis Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Desa Pedungan, Denpasar. Langkah ini menjadi tonggak sejarah bagi program waste-to-energy di Pulau Dewata yang dirancang untuk mengatasi persoalan limbah secara berkelanjutan dengan standar teknologi internasional.

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa pemilihan teknologi dalam proyek ini telah melalui seleksi ketat dengan rekam jejak yang teruji di lebih dari 50 negara. Ia menjamin bahwa fasilitas ini akan beroperasi dengan standar kebersihan tinggi, bahkan tidak mengeluarkan bau, sehingga dapat diintegrasikan dengan area publik seperti taman rekreasi maupun fasilitas edukasi.

Proyek yang dikelola oleh PT Danantara Investment Management (DIM) dan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) ini menargetkan mulai beroperasi penuh pada awal 2028. Fasilitas ini diproyeksikan mampu menyerap 1.500 ton sampah setiap harinya, atau setara dengan lebih dari 40 persen total timbulan sampah di Bali, sekaligus mengurangi beban lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) secara signifikan hingga 80 persen.

Pandu Patria Sjahrir, selaku CEO PT DIM, menambahkan bahwa operasional PSEL Bali akan mengacu pada standar ketat Europe Industrial Emission Directive (EU IED). Selain mengatasi masalah lingkungan, proyek senilai Rp3 triliun ini diharapkan mampu menyuplai energi hijau bagi sekitar 100.000 rumah tangga di Bali serta menyerap sekitar 1.200 tenaga kerja hijau.

Dari sisi mitigasi perubahan iklim, fasilitas ini diproyeksikan dapat menurunkan emisi karbon sebesar 640.000 ton CO2 per tahun. Inisiatif ini tidak hanya menjadi solusi pragmatis atas tantangan pengelolaan sampah di Bali, namun juga langkah konkret pemerintah dalam mendorong transisi energi bersih dan pertumbuhan ekonomi sirkular di wilayah tersebut.