Bursa saham di sebagian besar kawasan Asia menutup perdagangan Jumat (26/6/2026) dengan laju yang tertekan. Pelemahan ini membalikkan reli tajam yang terjadi pada sesi sebelumnya. Sentimen negatif mengalir dari Wall Street semalam, di mana indeks Nasdaq kembali terperosok akibkan aksi jual pada saham-saham teknologi berkapitalisasi besar.

Saham teknologi menjadi beban utama karena kembali muncul kekhawatiran investor terhadap valuasi yang sudah sangat tinggi, khususnya pada perusahaan yang terkait dengan tren kecerdasan buatan. Kekhawatiran ini diperkuat oleh rilis data inflasi inti Amerika Serikat yang sesuai ekspektasi, namun masih berada di level tertinggi sejak Oktober 2023, sehingga memperkuat asumsi bank sentral AS, The Fed, untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 terkoreksi hingga 3,37 persen ke posisi 69.967. Pelemahan dipimpin oleh anjloknya saham SoftBank Group yang merosot hampir 12 persen. Saham Fast Retailing, pemilik merek Uniqlo, juga ikut tertekan meski hanya melemah sekitar 1 persen. Investor di Negeri Sakura dilaporkan masif mengambil keuntungan (profit taking) pasca rally kuat di hari sebelumnya.

Aksi jual juga mewarnai pasar Korea Selatan. Indeks KOSPI jatuh lebih dari 4 persen ke kisaran 8.560, mengembalikan seluruh keuntungan yang diraih saat naik 5,4 persen pada sesi Kamis. Investor di negara tersebut juga merespons sentimen global yang melemah.

Di kawasan lain, indeks Shanghai Composite China turun 1,06 persen, indeks Hang Seng Hong Kong melemah 1,12 persen, dan indeks Straits Times Singapura terkoreksi 0,53 persen. Penurunan ini tersebar luas di tengah narasi global yang hati-hati. Sebaliknya, indeks ASX 200 Australia menjadi pengecualian dengan menguat tipis sebesar 0,15 persen.

Kondisi bursa Asia tidak lepas dari pergerakan Wall Street pada hari sebelumnya. Indeks Dow Jones Industrial Average naik tipis 71,72 poin (0,14 persen) ke 51.920,62. Namun, Nasdaq Composite merugi 0,46 persen dan S&P 500 nyaris stagnan dengan penurunan 0,01 persen. Investor di AS tengah mencerna sejumlah data ekonomi penting dan laporan kinerja perusahaan teknologi seperti Micron, di samping mengamati perkembangan negosiasi geopolitik antara AS dan Iran.