Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah, Ali Said, memastikan jalannya pendataan Sensus Ekonomi 2026 dengan melakukan supervisi langsung di Kota Semarang, Kamis (25/6/2026). Ia melaporkan sambutan positif dari para pelaku usaha sebagai responden sensus.
Dalam kesempatan tersebut, Ali menegaskan penekanan utama: Sensus Ekonomi 2026 sama sekali tidak berkaitan dengan urusan perpajakan. BPS menjamin kerahasiaan data individu yang dihimpun. "Informasi individu akan kami rahasiakan. Tidak akan diberikan kepada pihak manapun, termasuk kantor pajak," tegasnya, guna menghilangkan kekhawatiran masyarakat.
Sensus ini merupakan upaya pemerintah untuk mengumpulkan informasi ekonomi faktual dari seluruh lapisan masyarakat. Data yang terkumpul nantinya akan menjadi landasan utama dalam merumuskan kebijakan pembangunan ekonomi, baik di tingkat daerah maupun nasional, yang diharapkan dapat berdampak positif langsung bagi kesejahteraan rakyat.
Untuk pelaku usaha, pertanyaan sensus mencakup aspek pendapatan, pengeluaran, dan serapan tenaga kerja. Sementara untuk responden rumah tangga, sensus akan mencatat kondisi ekonomi rumah tangga dan aktivitas usaha sampingan yang dijalankan dari rumah.
Kepala BPS Jateng menyebutkan bahwa terdapat lebih dari 4,9 juta unit usaha di Jawa Tengah yang menjadi target sensus. Jumlah ini mencakup usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Untuk mencakup seluruh target, BPS mengerahkan sekitar 36.890 petugas sensus yang tersebar di seluruh provinsi.
Herliani, pemilik Toko Sederhana di Semarang, menyampaikan sikap terbukanya sebagai responden. Ia tidak merasa khawatir data usahanya akan disalahgunakan. "Sensus Ekonomi yang dilakukan hari ini bagus sekali. Bagi saya, pelaku usaha harus ada take and give dengan pemerintah, supaya mereka tahu keadaan real di lapangan," ujarnya.
Sementara itu, Wakil Kepala BPS Sonny Harry Budiutomo Harmadi menjelaskan bahwa Sensus Ekonomi 2026 merupakan instrumen penting untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8%. Untuk itu, data perekonomian yang akurat dan andal merupakan prasyarat mutlak.
Sonny menambahkan beberapa keunikan sensus tahun ini. Untuk pertama kalinya, sensus ekonomi memasukkan sektor pertanian dalam pencacahannya. Durasi sensus juga diperpanjang menjadi 2,5 bulan, hingga 31 Agustus 2026, untuk memastikan kelengkapan data. Cakupannya pun meluas dengan mencatat aktivitas usaha di dalam rumah tangga.
Seluruh proses pendataan dilakukan secara digital untuk menjamin keamanan informasi. Petugas di lapangan hanya berfungsi sebagai pengumpul data mentah yang langsung dikirim ke sistem BPS. Mereka tidak memiliki akses untuk menyimpan atau melihat data sensitif yang telah diunggah, memperkuat jaminan kerahasiaan bagi responden.