Industri makanan dan minuman (food and beverage/F&B) di Bali tengah mengalami pertumbuhan yang signifikan. Gerai-gerai kuliner baru terus bermunculan di berbagai penjuru pulau. Namun di balik geliat pertumbuhan tersebut, fenomena usaha kuliner yang hanya mampu bertahan sebentar sebelum akhirnya tutup juga menjadi pemandangan yang tak kalah lazim.
Heru Soesilo, pemilik 2080 Burger, mengungkapkan bahwa tingginya angka kegagalan bisnis kuliner bukan semata disebabkan oleh sepinya pasar. Menurutnya, akar permasalahan justru terletak pada lemahnya tata kelola usaha. "Kalau melihat itu sebenarnya wajar. Ada yang buka, ada yang tutup. Yang penting bagaimana cara mengelola bisnisnya. Harus belajar sistem, operasional, dan costing," paparnya dalam acara Kopdar F&B Bali yang diselenggarakan PT Esensi Solusi Buana (ESB) di Kuta, Kamis (25/6).
Heru menekankan pentingnya pengendalian biaya operasional, manajemen stok, serta pengawasan arus pembayaran secara ketat. Tanpa kontrol yang memadai, kebocoran finansial dapat terjadi tanpa disadari dan menggerus keuntungan usaha secara perlahan. Ia bahkan mengaku pernah mengalami sendiri penyalahgunaan transaksi oleh karyawan yang baru terungkap setelah menerapkan sistem digital terintegrasi. "F&B itu rawan kebocoran. Bisa dari produk, bisa dari pembayaran. Saya pernah mengalami sendiri," tegasnya.
Pandangan senada dikemukakan oleh Munir, pemilik Jenar Kopi. Ia menilai banyak pelaku usaha kuliner terlalu terburu-buru membuka cabang baru tanpa terlebih dahulu membangun fondasi sistem yang solid. Menurutnya, kemampuan menjual produk tetap menjadi prioritas awal, namun begitu bisnis mulai berkembang, keberadaan sistem yang terstruktur menjadi kebutuhan mutlak. "Yang pasti harus bisa jualan dulu. Setelah ada penjualan baru bicara sistem dan teknologi. Tapi setelah berkembang, sistem memang penting," jelasnya.
Munir juga menyoroti tantangan besar lain yang dihadapi pelaku bisnis kuliner saat ini, yakni pengelolaan sumber daya manusia. Tingginya tingkat pergantian karyawan di sektor F&B menuntut para pengusaha untuk memiliki standar operasional prosedur yang jelas, sehingga aktivitas bisnis tetap berjalan stabil meski terjadi rotasi personel.
Di sisi lain, Gunawan selaku Co-Founder dan CEO PT ESB menjelaskan bahwa banyak pelaku usaha F&B berskala kecil dan menengah masih menghadapi kendala dalam mengadopsi teknologi. Biaya pengembangan perangkat lunak yang relatif tinggi menjadi penghalang utama. "Kalau mau software yang bagus biasanya harus custom dan biayanya mahal. Padahal banyak pengusaha yang baru punya dua atau tiga outlet," ungkapnya.
Gunawan meyakini bahwa penggunaan sistem terintegrasi merupakan solusi strategis bagi pelaku usaha kuliner untuk mengontrol operasional secara menyeluruh, menekan pengeluaran, meningkatkan efisiensi kerja, sekaligus menjaga keberlangsungan bisnis di tengah lanskap industri F&B yang semakin kompetitif.