Abu vulkanik yang terhempas saat erupsi gunung berapi menyimpan potensi bahaya serius bagi kesehatan masyarakat. Berbeda dari debu biasa, material erupsi ini mengandung mineral mikroskopis dan partikel silika tajam yang teksturnya menyerupai serpihan kaca halus. Ukurannya yang sangat kecil membuat abu vulkanik mudah masuk ke dalam sistem pernapasan tanpa disadari.
Ketua Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), dr. Corona Rintawan, menegaskan bahwa dampak buruk dari paparan abu vulkanik tidak boleh dianggap remeh. Meski bahayanya sering kali tidak langsung terasa seketika, paparan dalam jangka panjang dapat memicu gangguan pernapasan dari skala iritasi ringan hingga peradangan berat.
Risiko kesehatan ini berpotensi meningkat signifikan pada kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit jantung. Bagi individu yang memiliki riwayat penyakit pernapasan seperti asma dan bronkitis, paparan material erupsi ini dapat memperburuk kondisi medis yang sudah ada. Selain itu, abu vulkanik juga berisiko menimbulkan iritasi mata dan kulit, hingga mencemari pasokan air bersih di sumur maupun sungai warga.
Sebagai langkah pencegahan awal, dr. Corona mengimbau warga di area terdampak untuk sebisa mungkin mengurangi aktivitas di luar ruangan. Apabila terpaksa harus keluar rumah, penggunaan masker berstandar N95 atau N100 sangat dianjurkan karena kemampuannya menyaring partikel halus secara optimal. Namun, jika masker jenis tersebut sulit didapatkan, masyarakat tetap disarankan memakai masker medis atau masker kain yang tersedia demi mengurangi paparan langsung.
Untuk menjaga kebersihan area tempat tinggal, masyarakat diingatkan agar membasahi permukaan yang tertutup abu vulkanik sebelum dibersihkan. Langkah ini penting dilakukan agar partikel tajam tidak kembali beterbangan dan terhirup. Warga juga diminta tetap tenang, mengikuti perkembangan panduan resmi dari pemerintah dan Kementerian Kesehatan, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala gangguan pernapasan.