JAKARTA — Industri asuransi umum, khususnya lini asuransi kendaraan bermotor, menghadapi tantangan tidak ringan seiring daya beli masyarakat yang masih tertahan. Kondisi tersebut ikut memengaruhi laju penjualan kendaraan, baik mobil maupun sepeda motor, yang menjadi salah satu sumber utama pertumbuhan premi di segmen ini.
Meski demikian, pelaku industri asuransi tidak serta-merta mengambil sikap defensif. Perusahaan asuransi tetap berupaya menjaga kinerja melalui penguatan kanal distribusi, kerja sama dengan lembaga pembiayaan, serta penyesuaian strategi pemasaran agar produk perlindungan kendaraan tetap relevan bagi konsumen.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo menunjukkan, penjualan mobil secara wholesales sepanjang kuartal I/2026 masih mencatat kenaikan tipis. Secara kumulatif, penjualan mobil tumbuh 1,7 persen secara tahunan menjadi 209.021 unit.
Berbeda dengan pasar mobil, penjualan sepeda motor justru mengalami tekanan. Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia atau AISI mencatat penjualan motor pada periode yang sama turun 4,1 persen secara tahunan menjadi 1.683.262 unit.
Pergerakan pasar otomotif tersebut menjadi perhatian bagi industri asuransi karena penjualan kendaraan baru kerap berkorelasi dengan permintaan polis asuransi kendaraan. Ketika pembelian kendaraan melambat, potensi pertumbuhan premi dari bisnis baru juga dapat ikut tertahan.
Namun, lini asuransi kendaraan bermotor masih menunjukkan ruang bertahan. Premi asuransi kendaraan tercatat tumbuh 2,92 persen secara tahunan, menandakan bahwa kebutuhan perlindungan atas aset kendaraan tetap ada, meskipun konsumsi masyarakat belum sepenuhnya pulih.
Dengan situasi tersebut, industri asuransi diperkirakan akan semakin selektif dalam mengelola risiko sekaligus memperluas penetrasi pasar. Tantangan terbesar bukan hanya mempertahankan pertumbuhan premi, tetapi juga menjaga kualitas portofolio di tengah kondisi ekonomi rumah tangga yang masih berhati-hati dalam membelanjakan pendapatan.