Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Jakarta Timur mengambil langkah taktis untuk menekan penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan menggelar pelatihan intensif bagi kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik), relawan, dan jajaran staf. Program ini difokuskan pada penguatan kapasitas deteksi dini dan mitigasi wabah di tingkat akar rumput.
Ketua PMI Kota Jakarta Timur, Bambang Pangestu, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari implementasi Mosquito Borne Disease Prevention Program (MBDPP). Melalui program ini, para peserta dibekali pemahaman mendalam mengenai pengendalian Kejadian Luar Biasa (KLB) serta konsep Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM) khusus untuk penyakit dengue.
Upaya preventif ini juga menargetkan wilayah-wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap penularan penyakit tular vektor, khususnya pemukiman di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung. Dalam pelaksanaannya, PMI bersinergi dengan berbagai mitra strategis guna membangun ketangguhan warga dalam menghadapi ancaman kesehatan lingkungan ini.
Pelatihan yang digelar di Markas PMI Jakarta Timur ini menerapkan metode pembelajaran partisipatif. Para peserta tidak hanya menerima materi teori, melainkan juga terlibat aktif dalam diskusi kelompok, bedah kasus, simulasi lapangan, serta evaluasi komprehensif melalui pre-test dan post-test untuk mengukur pemahaman materi secara riil.
Melalui pembekalan ini, diharapkan tercipta sinergi yang lebih solid antara kader kesehatan, fasilitas medis, dan pemerintah daerah. Selain itu, masyarakat didorong untuk lebih konsisten menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara mandiri.
Urgensi penguatan kader Jumantik ini sejalan dengan data kesehatan setempat yang mencatat adanya 1.951 kasus DBD di Jakarta Timur sepanjang Januari hingga pertengahan Juni 2026. Kecamatan Cakung tercatat sebagai wilayah dengan kasus tertinggi yakni 360 laporan, sementara Kecamatan Makasar mencatat angka terendah dengan 113 kasus.