Protein sering kali diagungkan sebagai nutrisi vital, terutama bagi para pegiat olahraga dan mereka yang tengah berupaya membentuk massa otot. Namun, tren meningkatkan asupan protein secara masif, baik lewat pola makan harian maupun suplemen tambahan, perlu disikapi secara bijak karena konsumsi yang melampaui batas kebutuhan justru dapat berdampak buruk bagi tubuh.
Chitra B K, selaku Kepala Dietisien Nutrisi Klinis & Onkologi di KIMS Hospitals Bengaluru, menjelaskan bahwa meski protein penting untuk memperbaiki sel tubuh yang rusak dan memperkuat sistem imun, takarannya bersifat personal. Konsumsi yang melewati batas wajar dapat menimbulkan konsekuensi medis serius, tergantung pada faktor usia serta kondisi kesehatan masing-masing individu.
Salah satu organ tubuh yang paling rentan terbebani akibat kelebihan zat ini adalah ginjal. Proses metabolisme protein menghasilkan zat sisa yang harus disaring dan dibuang oleh ginjal. Bagi orang dengan kondisi ginjal yang sehat, beban ini mungkin masih bisa ditoleransi. Namun, bagi mereka yang memiliki riwayat penurunan fungsi ginjal, beban kerja ekstra tersebut berpotensi mempercepat kerusakan organ. Masalah serupa juga mengintai penderita gangguan hati, yang kesulitan memecah protein akibat penurunan performa organ hati.
Dampak negatif lain yang kerap muncul adalah gangguan pada sistem pencernaan. Chitra menambahkan bahwa pelaku diet tinggi protein sering kali mengabaikan asupan serat dari buah-buahan, sayur, dan biji-bijian. Minimnya serat ini memicu sembelit, perut kembung, ketidakseimbangan bakteri usus, hingga dehidrasi. Oleh sebab itu, keseimbangan asupan serat dan cairan yang cukup mutlak diperlukan.
Pemilihan sumber protein juga sangat menentukan kualitas kesehatan jangka panjang. Dibandingkan hanya mengandalkan satu jenis makanan, variasi sumber protein seperti telur, ikan, kacang-kacangan, produk susu rendah lemak, dan daging tanpa lemak sangat dianjurkan. Sebaliknya, konsumsi berlebih pada daging olahan dan daging berlemak dapat menimbun lemak jenuh serta natrium yang memicu gangguan kardiovaskular.
Kekhawatiran ini sejalan dengan studi ilmiah dalam jurnal ISRN Nutrition tahun 2013. Penelitian tersebut menyebutkan kebutuhan protein harian ideal untuk dewasa sehat adalah sekitar 0,8 gram per kilogram berat badan. Konsumsi melebihi dosis ini dalam jangka panjang dikaitkan dengan peningkatan pembuangan kalsium lewat urine yang melemahkan kepadatan tulang, risiko kanker tertentu akibat dominasi daging merah, hingga percepatan penyakit jantung koroner.