Fenomena meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga ekstrem seperti maraton dan trail running sering kali dipicu oleh tren sosial atau Fear of Missing Out (FOMO). Namun, para pakar kesehatan di RS Murni Teguh Naripan Bandung mengingatkan pentingnya mengenali batas kemampuan fisik guna menghindari cedera fatal hingga risiko henti jantung mendadak.

Peringatan ini mengemuka dalam seminar edukasi kesehatan bertajuk "Safe Pace Strong Heart, Rahasia FOMO Olahraga Ekstrem Tanpa Tumbang" di Bandung. Dalam forum tersebut, dr. Johan membagikan rumus sederhana bagi masyarakat untuk menghitung detak jantung aman saat berolahraga intensitas tinggi, yakni dengan mengurangi angka 220 dengan usia seseorang, agar organ vital tidak dipaksa bekerja melebihi kapasitasnya.

Direktur RS Murni Teguh Naripan Bandung, dr. Rully Sjambali, mengapresiasi tingginya antusiasme warga Bandung dalam mengadopsi gaya hidup sehat melalui berbagai komunitas kebugaran. Kendati demikian, ia menekankan bahwa pemahaman medis dasar mengenai respons tubuh sangat krusial. Kehadiran fasilitas kedokteran olahraga (sport medicine) di rumah sakit bertujuan untuk memandu masyarakat berolahraga secara terukur dan aman.

Menambahkan hal tersebut, spesialis kedokteran olahraga dr. Ijan Aprijana merinci lima pilar utama yang wajib dipenuhi sebelum menjalani olahraga berat. Pilar tersebut meliputi latihan kardio yang konsisten, penguatan otot, menjaga kelenturan tubuh, pemenuhan nutrisi dan hidrasi yang cukup, serta menjaga pola istirahat yang seimbang serta menghindari kebiasaan merokok demi keselamatan jiwa.