Serial anime terbaru berjudul 'Jaadugar: A Witch in Mongolia' kini tengah menjadi sorotan luas di kancah internasional, termasuk di Indonesia. Diproduksi oleh studio ternama Science SARU, tayangan yang mulai mengudara di platform Crunchyroll pada 4 Juli lalu ini memberikan kejutan bagi penonton melalui detail latar budaya yang jarang dieksplorasi dalam industri animasi Jepang.
Pada menit-menit awal penayangannya, pemirsa langsung disambut dengan suara azan yang menggema di sebuah pemukiman Mongolia. Adegan tersebut menampilkan karakter utama yang mengenakan hijab serta penutup wajah, berlari menuju bangunan masjid berkubah. Momen ini digambarkan dengan penuh ketakjuban, menandai pendekatan naratif yang berani dalam memadukan budaya Mongol dan Persia secara mendalam.
Cerita dalam anime ini berpusat pada tokoh bernama Fatima atau Sitara, seorang gadis Muslim asal Persia yang memiliki kecerdasan luar biasa di bidang pengobatan. Latar waktu abad ke-13 menempatkan Sitara di tengah gejolak politik Kekaisaran Mongol di bawah kepemimpinan Genghis Khan yang sedang gencar melakukan ekspansi wilayah. Kehidupan damai Sitara pun berubah drastis setelah wilayah tempat tinggalnya terimbas ambisi besar kekaisaran tersebut.
Kualitas produksi serial ini dijamin oleh jajaran kreator kaliber dunia. Proyek ini disutradarai oleh Naoko Yamada, sosok yang dikenal melalui karya monumentalnya 'A Silent Voice', bersama Abel Gongora. Selain itu, desain karakter dalam serial ini dikerjakan oleh Kenichi Yoshida, mantan ilustrator yang pernah bekerja untuk Studio Ghibli.
Perlu diketahui bahwa 'Jaadugar: A Witch in Mongolia' merupakan adaptasi dari komik berjudul 'Tenmaku no Jaadugar' karya Tomato Soup yang diserialisasikan melalui majalah manga digital Souffle milik Akita Shoten. Hingga kini, komik tersebut telah merilis lima volume dan terus mendapatkan apresiasi positif atas keberaniannya mengangkat narasi sejarah yang kaya akan keberagaman budaya.