Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (DP MUI) Sumatera Utara melalui Lembaga Penggerak Ekonomi Umat menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Model Pengembangan Bisnis Pesantren Berkelanjutan” di Medan, Selasa (7/7). Forum strategis ini mempertemukan para pimpinan pondok pesantren, akademisi, serta pemangku kebijakan perbankan guna merancang strategi penguatan ekonomi berbasis santri.
Ketua Umum DP MUI Sumatera Utara, Dr. H. Maratua Simanjuntak, menekankan bahwa pesantren memiliki potensi besar sebagai pusat kemandirian ekonomi. Beliau mendorong agar setiap unit usaha pesantren dikelola secara lebih profesional, termasuk adopsi sistem transaksi digital untuk mengikuti tuntutan zaman dan mempermudah akses layanan bagi santri maupun masyarakat sekitar.
Dalam forum tersebut, berbagai pihak termasuk Bank Indonesia dan Bank Syariah Indonesia turut memberikan edukasi mengenai akses pembiayaan dan strategi pengembangan UMKM. Dr. Salman Nasution, selaku ketua panitia, menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah mengubah potensi internal pesantren menjadi ekosistem usaha yang terukur, transparan, dan berkelanjutan melalui tata kelola yang baik.
Senada dengan hal tersebut, praktisi bisnis Bobby Umroh menyoroti pentingnya integrasi teknologi dalam operasional usaha pesantren guna menjaga daya saing produk. Menurutnya, pemanfaatan sumber daya manusia yang melimpah serta lahan yang tersedia harus didukung oleh efisiensi kerja agar unit usaha pesantren mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan pasar.
Di sisi lain, konsep ekonomi sirkular turut mengemuka sebagai solusi efisiensi di lingkungan pondok. Pimpinan Pondok Pesantren Darul Ilmi Murni, Dr. H. Dedi Masri, memberikan contoh penerapan pengelolaan limbah yang diubah menjadi nilai ekonomi melalui budidaya ternak. Langkah kolaboratif ini diharapkan menjadi pijakan bagi pesantren di Sumatera Utara untuk membangun jejaring bisnis yang luas hingga menembus pasar internasional.