Duel sengit antara Argentina dan Mesir pada babak 16 besar Piala Dunia yang berakhir dengan skor 3-2 telah menyisakan perdebatan sengit mengenai kepemimpinan wasit François Letexier. Meski publik menyoroti sejumlah keputusan kontroversial, Danny Koevermans, mantan pemain yang kini menjadi analis, berpendapat bahwa sang pengadil lapangan tidak patut disalahkan atas rangkaian peristiwa di lapangan.
Sorotan utama tertuju pada dianulirnya gol Mesir melalui intervensi VAR. Analis ESPN, Arnold Bruggink, mengkritik penggunaan teknologi tersebut yang dianggap berlebihan dalam situasi itu. Namun, Koevermans menegaskan bahwa ketika seorang wasit dipanggil untuk meninjau tayangan ulang oleh VAR, keputusan akhir biasanya akan mengikuti bukti visual yang terpampang, terutama saat terlihat ada pelanggaran fisik yang jelas seperti menginjak kaki lawan.
Terkait klaim penalti Mesir sebelum gol kemenangan Argentina, para pakar sepakat bahwa keterbatasan penglihatan manusia menjadi faktor penentu. Koevermans dan Kees Kwakman berargumen bahwa insiden tersebut luput dari pandangan wasit karena posisi dan kondisi cahaya yang tidak mendukung. Tanpa bantuan dari ruang kendali VAR untuk meninjau insiden itu, wasit tidak mungkin memberikan keputusan yang berbeda.
Secara keseluruhan, diskusi pasca-pertandingan menegaskan bahwa mekanisme VAR seringkali menciptakan dilema bagi wasit di lapangan. Meski keputusan-keputusan tersebut memicu kekecewaan bagi pihak Mesir, para pengamat menilai Letexier telah bertindak sesuai dengan instruksi yang berlaku dalam protokol pertandingan FIFA saat ini.