Kopi luwak telah lama menyandang predikat sebagai salah satu kopi paling mahal di dunia, dengan harga yang bisa menembus ribuan poundsterling per kantong. Namun, sejumlah pakar kini menyuarakan peringatan serius terkait potensi bahaya kesehatan yang mengintai di balik proses produksi minuman eksklusif tersebut.

Kekhawatiran ini berpusat pada praktik pemeliharaan musang luwak atau Asian palm civet yang kerap dilakukan dalam kondisi kandang sempit, padat, dan jauh dari standar kebersihan. Para ilmuwan menilai situasi tersebut membuka peluang besar bagi berkembangnya penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia.

Sebagaimana diketahui, kopi luwak dihasilkan melalui proses yang terbilang unik. Musang luwak memakan buah kopi, lalu biji kopi yang tidak tercerna dikeluarkan bersama kotorannya. Biji-biji tersebut kemudian dikumpulkan, dibersihkan, dan diolah menjadi kopi siap seduh. Proses fermentasi alami di dalam saluran pencernaan hewan ini diklaim menghasilkan karakter rasa yang lebih lembut serta tingkat keasaman yang lebih rendah dibandingkan kopi konvensional.

Kelangkaan produksi dan keunikan proses inilah yang mendorong harga kopi luwak melambung tinggi di pasar internasional. Akan tetapi, tingginya permintaan justru memunculkan praktik eksploitasi yang mengkhawatirkan. Organisasi perlindungan hewan PETA mengungkapkan bahwa banyak luwak ditangkap dari habitat aslinya sejak usia muda, lalu dikurung dalam kandang semata-mata untuk menghasilkan biji kopi bernilai tinggi.

Wakil Presiden Program PETA, Elisa Allen, menegaskan bahwa mengurung satwa liar dalam lingkungan yang kotor dan sesak merupakan resep sempurna bagi kemunculan patogen berbahaya. "Menempatkan hewan liar dalam kondisi kotor dan padat menciptakan situasi yang sempurna bagi munculnya patogen berbahaya, yang dapat membawa kita lebih dekat pada pandemi berikutnya," tegasnya.

Peringatan senada dilontarkan oleh Simon Clarke, seorang ahli mikrobiologi dari University of Reading. Clarke menekankan bahwa musang luwak bukanlah hewan domestik, sehingga memiliki karakteristik biologis yang secara fundamental berbeda dari hewan peliharaan seperti kucing rumahan. Ia mengingatkan bahwa musang luwak pernah diidentifikasi sebagai salah satu inang perantara dalam penyebaran virus penyebab Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang mewabah di China pada awal dekade 2000-an.

"Selalu ada kemungkinan munculnya bakteri, virus, atau infeksi zoonosis lainnya," kata Clarke, menggarisbawahi bahwa ancaman penularan penyakit dari hewan liar yang dipelihara secara intensif tidak boleh dipandang sebelah mata. Peringatan para ahli ini diharapkan dapat mendorong evaluasi menyeluruh terhadap praktik produksi kopi luwak, terutama yang melibatkan penangkaran musang dalam kondisi yang tidak memenuhi standar kesejahteraan hewan.