Pemerintah Kabupaten Pati mengingatkan masyarakat akan potensi bahaya di balik pesatnya perkembangan teknologi informasi yang tidak dibarengi dengan peningkatan literasi media. Pemahaman media sosial yang bijak dinilai sangat krusial agar kemajuan teknologi tidak justru menjadi sarana pemecah belah bangsa.

Wakil Bupati Pati, Saiful Arifin, menyoroti fenomena kontradiktif yang terjadi di Indonesia. Menurutnya, meskipun minat baca dan tingkat literasi masyarakat masih tergolong rendah, angka penggunaan media sosial di tanah air justru masuk dalam jajaran tertinggi di dunia. Ketimpangan ini dinilai menjadi celah subur bagi maraknya penyebaran berita bohong atau hoaks.

Ia menguraikan bahwa pembiaran terhadap hoaks sangat berbahaya karena narasi menyesatkan yang terus beredar lambat laun dapat dipercaya sebagai sebuah kebenaran. Terlebih lagi, sebagian besar konten hoaks didominasi oleh unsur fitnah yang berpotensi mencederai kebhinekaan serta merusak persatuan dan kesatuan nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Forum Diskusi Publik bertajuk "Merawat Kebhinekaan dengan Bermedia Sosial yang Bijak" yang digelar oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Pati di Hotel Safin. Pada kesempatan itu, Pemerintah Kabupaten Pati juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran kepolisian dan Kementerian Komunikasi dan Informatika atas upaya ketat dalam mengusut dan menindak kelompok-kelompok penyebar hoaks.

Acara diskusi ini turut menghadirkan jajaran narasumber dari berbagai sektor penting, mulai dari akademisi Universitas Sebelas Maret (UNS), perwakilan Komisi I DPR RI, Lembaga Penyiaran Publik RRI, hingga Direktur Pengelolaan Media Publik Kemenkominfo.