Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang kini berada pada status Level III (Siaga) memicu potensi gangguan kesehatan bagi masyarakat di wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat. Menanggapi kondisi tersebut, praktisi kesehatan sekaligus pegiat media sosial, dr. Tirta, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan abu vulkanik yang dapat mengancam kesehatan saluran pernapasan dan kulit.

Dalam imbauannya, dr. Tirta menekankan pentingnya penggunaan masker saat harus beraktivitas di luar ruangan, meskipun sebaran abu terlihat tipis secara kasatmata. Ia menjelaskan bahwa partikel mikro abu vulkanik yang terhirup secara berulang berisiko memicu reaksi alergi, infeksi saluran pernapasan atas, hingga dampak yang lebih berat seperti bronkitis.

Terkait pembersihan lingkungan tempat tinggal, dr. Tirta menyarankan agar masyarakat tidak membersihkan abu vulkanik dengan cara menyapu kering. Metode tersebut justru berpotensi membuat debu beterbangan dan terhirup. Cara yang paling aman adalah membasahi atau menyiram area yang terpapar abu menggunakan air. Selain itu, bagi warga yang wajahnya terpapar abu, disarankan untuk segera membasuhnya dengan pembersih wajah yang lembut tanpa menggosoknya secara kasar demi menghindari iritasi atau luka gores pada kulit.

Guna meminimalkan risiko pemaparan abu lebih lanjut, warga juga dianjurkan untuk mengalihkan aktivitas olahraga luar ruangan ke dalam ruangan untuk sementara waktu. Imbauan preventif dari dokter ini sejalan dengan arahan Pemerintah Daerah Banten dan Jawa Barat yang meminta warga terdampak untuk terus menerapkan protokol kesehatan dan keselamatan di tengah potensi ancaman dampak erupsi.