Bursa saham Wall Street kembali ditutup melemah pada akhir perdagangan Selasa waktu setempat, memperpanjang tren koreksi selama tiga hari beruntun setelah sempat menyentuh rekor tertinggi pekan lalu. Pelemahan ini dipicu oleh aksi jual massal pada sektor teknologi dan semikonduktor, yang diperparah oleh lonjakan tajam imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Koreksi terjadi merata di seluruh indeks utama. Indeks S&P 500 tergelincir 0,69 persen atau kehilangan 53,30 poin ke level 7.691,76. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite yang padat saham teknologi anjlok cukup dalam sebesar 1,33 persen atau 355,20 poin ke posisi 26.289,71. Indeks Dow Jones Industrial Average juga turun tipis 0,22 persen ke level 53.343,40, disusul indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 yang melemah 1,30 persen ke level 3.017,89.
Sektor semikonduktor dan perangkat memori menjadi motor utama kejatuhan pasar kali ini akibat aksi ambil untung (profit taking) setelah reli panjang yang didorong oleh tren kecerdasan buatan (AI). Saham SanDisk dan Seagate Technology memimpin kejatuhan dengan masing-masing anjlok sebesar 9 persen. Langkah ini diikuti oleh Western Digital yang merosot 7 persen, serta raksasa cip Nvidia yang terkoreksi lebih dari 2 persen.
Dari sisi makroekonomi, kekhawatiran terhadap inflasi jangka panjang kembali mencuat setelah yield obligasi AS tenor 30 tahun melesat ke level 5,34 persen, tertinggi sejak 2007. Kondisi ini kian tertekan oleh kenaikan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) hingga mencapai USD 84,90 per barel, yang dipicu oleh ketegangan geopolitik antara AS dan Iran terkait rute logistik krusial di Selat Hormuz.
Para analis memperkirakan pergerakan Wall Street ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh fluktuasi yield obligasi dan kelanjutan tekanan jual di sektor teknologi. Selain itu, perkembangan diplomasi geopolitik di Selat Hormuz serta pergerakan harga komoditas energi akan tetap menjadi fokus perhatian para pelaku pasar global.