Pemerintah mengingatkan pentingnya menjaga kedaulatan data nasional di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (AI). Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menegaskan bahwa AI kini bukan lagi sekadar alat bantu teknologi biasa, melainkan telah bertransformasi menjadi instrumen geopolitik yang krusial bagi pertahanan dan daya saing suatu negara.

Dalam agenda pembekalan di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Jakarta, Nezar memaparkan tantangan baru dari kemunculan teknologi agentic AI. Berbeda dari AI generatif konvensional, teknologi mutakhir ini memiliki kemampuan berpikir logis (*reasoning*) dan mengambil keputusan secara mandiri guna menyelesaikan tugas-tugas kompleks tanpa intervensi manusia secara terus-menerus.

Kemampuan otonom tersebut memang membawa peluang efisiensi di berbagai sektor strategis, namun di sisi lain melipatgandakan ancaman kebocoran data. Nezar mengingatkan bahwa data merupakan bahan baku utama pengoperasian sistem AI. Kehilangan kontrol atas data sensitif, seperti cadangan energi, infrastruktur telekomunikasi, dan layanan publik, dapat membahayakan ketahanan nasional jika dieksploitasi oleh kekuatan geopolitik luar.

Selain ancaman AI otonom, lanskap pertahanan siber global juga akan dihadapkan pada ancaman komputasi kuantum (*quantum computing*). Menanggapi tantangan masa depan ini, Kementerian Komunikasi dan Digital mulai menjajaki penerapan kriptografi pasca-kuantum (*post-quantum cryptography*) sebagai benteng perlindungan baru bagi sistem digital nasional.

Guna mendukung ekosistem siber yang kokoh, pemerintah mendorong penerapan prinsip security by design, di mana aspek keamanan dirancang sejak awal pembuatan sistem digital, bukan sekadar respons reaktif setelah terjadi peretasan. Langkah strategis ini nantinya akan diselaraskan dengan Peta Jalan Nasional AI yang tengah difinalisasi oleh pemerintah.

Kendati demikian, realisasi ketahanan digital ini masih terbentur keterbatasan sumber daya manusia. Indonesia diproyeksikan membutuhkan sembilan juta talenta digital terampil pada tahun 2030, sementara ketersediaan saat ini baru mencapai sekitar tiga juta orang. Sektor pendidikan dan investasi SDM di bidang teknologi canggih pun menjadi kunci utama pertahanan bangsa di era kecerdasan buatan.