Rumah Sakit Semarang Medical Center (SMC) RS Telogorejo di Jawa Tengah sukses menekan biaya operasional listrik hingga 5 persen pada tahun 2025. Keberhasilan ini dicapai berkat transisi ke sistem pengelolaan gedung berbasis digital menggunakan solusi Building Management System (BMS) dari Schneider Electric. Langkah taktis ini sekaligus membalikkan tren kenaikan beban listrik rumah sakit yang sebelumnya melonjak rata-rata 9 persen per tahun.
Melalui platform EcoStruxure Building Operation, RS Telogorejo kini mengintegrasikan berbagai infrastruktur vital mulai dari sistem pendingin udara (HVAC), jaringan kelistrikan, hingga suplai daya bebas hambatan (UPS) ke dalam satu pusat kendali terpadu. Pengawasan secara aktual ini memungkinkan pendeteksian dini terhadap segala bentuk kejanggalan sistemik pada fasilitas kesehatan tipe B tersebut.
Selain efisiensi anggaran, penerapan teknologi cerdas ini diklaim mampu mempercepat waktu respons tim teknis hingga 60 persen dalam menangani anomali operasional berkat sistem peringatan otomatis. Teknologi terintegrasi ini juga membantu rumah sakit mencapai kepatuhan mutlak (100 persen) terhadap standar regulasi suhu serta kelembapan udara di ruang operasi, sebuah parameter krusial demi keselamatan pasien.
Chief Operating Officer (COO) Yayasan Kesehatan Telogorejo, Glenda Angeli, menjelaskan bahwa langkah digitalisasi ini merupakan komitmen konkret dalam mewujudkan konsep rumah sakit cerdas (smart hospital) berstandar internasional. Dengan pemanfaatan teknologi, manajemen tidak hanya mampu mereduksi biaya operasional, melainkan juga memperkuat aspek keselamatan pasien dan keberlanjutan lingkungan.
Langkah modernisasi yang ditempuh RS Telogorejo ini sejalan dengan regulasi pemerintah yang tertuang dalam Permen PUPR Nomor 10 Tahun 2023 tentang Bangunan Gedung Cerdas dan Permen ESDM Nomor 8 Tahun 2025 mengenai manajemen energi. Regulasi tersebut menuntut efisiensi energi yang lebih ketat, mengingat sektor bangunan dan konstruksi secara global menyumbang hampir 40 persen emisi karbon dunia.
Business Vice President for Buildings Schneider Electric Indonesia, Reza Syarif, menegaskan bahwa efisiensi energi yang optimal bukan berarti mengorbankan kenyamanan atau keselamatan. Melalui ekosistem digital seperti EcoStruxure dan Power Monitoring Expert (PME), pengelola gedung kini dapat membaca data operasional secara presisi untuk memitigasi potensi pemborosan energi sebelum berdampak pada operasional harian.