Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) RI, Prof. Stella Christie, Ph.D., mengajak mahasiswa baru Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk tetap kritis di tengah maraknya pemanfaatan kecerdasan buatan (AI). Pesan tersebut disampaikan langsung dalam pembukaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) ITS 2026 di GOR Pertamina ITS, Surabaya, pada Rabu (5/8/2026).
Dalam orasi ilmiahnya, Stella menganalogikan fenomena perkembangan pesat AI saat ini seperti peristiwa economic bubble historis, seperti kegilaan tulip di Belanda dan ledakan gelembung dot-com di akhir era 90-an. Guru Besar bidang Kecerdasan Kognitif tersebut mengingatkan bahwa ketergantungan yang berlebihan pada AI berpotensi memicu gelembung teknologi baru yang rentan pecah sewaktu-waktu.
Analisis ini dikemukakan bukan untuk mendiskreditkan teknologi, melainkan untuk menggugah kesadaran mahasiswa akan dampak lingkungan dari penggunaan AI. Stella menyoroti fakta bahwa pusat data yang menopang teknologi komputasi AI membutuhkan pasokan listrik dan air bersih dalam volume yang sangat masif, setara dengan konsumsi energi negara-negara besar. Hal ini memicu dilema global terkait keberlanjutan sumber daya bumi demi memfasilitasi kebutuhan operasional teknologi tersebut.
Selain dampak lingkungan, ancaman nyata pergeseran peran manusia oleh algoritma komputer juga menjadi sorotan. Stella mengungkapkan bahwa lulusan bidang teknologi informasi pun kini menghadapi tantangan besar karena efisiensi biaya pemrograman yang ditawarkan oleh AI. Menurutnya, kesuksesan akademik di perguruan tinggi kini tidak lagi diukur semata-mata dari selembar ijazah, melainkan dari kompetensi unik individu yang tidak mampu ditiru oleh mesin.
Guna mengantisipasi disrupsi ini, Stella menekankan pentingnya institusi pendidikan tinggi memegang teguh tiga pilar utama: penciptaan, transmisi, serta kurasi pengetahuan. Kampus harus diposisikan sebagai wadah penempaan daya analisis dan pemikiran kritis, bukan sekadar tempat penimbunan data mentah yang dapat diakses secara instan lewat internet.
Walau AI memiliki akses tanpa batas terhadap basis data global, teknologi ini dinilai tidak memiliki kepekaan untuk memilah informasi yang memiliki nilai substansial bagi peradaban. Kemampuan kurasi inilah yang menjadi pembeda mutlak antara kecerdasan manusia dan mesin, dan menjadi tanggung jawab yang harus dipikul oleh para akademisi masa depan.
Stella mengimbau para mahasiswa baru untuk memanfaatkan masa perkuliahan secara optimal guna melatih kesiapan mental, memperluas jejaring, dan mengasah ketajaman analisis sosial. Kegiatan interaktif dan kolaboratif di lingkungan kampus dinilai memberikan sentuhan humanis yang krusial untuk melahirkan lulusan yang adaptif terhadap target global SDGs. Acara PKKMB ini kemudian ditutup secara simbolis dengan pertukaran cendera mata antara Stella Christie dan Rektor ITS, Prof. Bambang Pramujati.