Penguatan bidang Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika (STEM) kini menjadi fokus baru bagi Nahdlatul Ulama (NU). Melalui Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) DKI Jakarta, organisasi kemasyarakatan Islam terbesar ini meluncurkan gerakan "Nahdlatul 'Ilmi" guna membangun ekosistem pendidikan teknologi yang terencana, mulai dari tingkat dasar, pesantren, hingga perguruan tinggi.

Gagasan besar tersebut mengemuka dalam Sarasehan Pendidikan Tinggi NU 2026 bertajuk “Nahdlatul ‘Ilmi, Kebangkitan Sains dan Teknologi Kaum Nahdliyin” yang digelar di Menteng, Jakarta Pusat. Forum strategis ini dirancang untuk merumuskan langkah konkret penguasaan teknologi bagi warga Nahdliyin serta menjajaki peluang pendirian universitas khusus berbasis sains dan teknologi di Jakarta.

Ketua LPTNU DKI Jakarta, Mulyadin Permana, menekankan pentingnya penguatan SDM Nahdliyin di bidang STEM sebagai penopang utama kemajuan nasional. Menurutnya, dengan basis massa NU yang sangat besar, keberhasilan transformasi pendidikan di sektor ini akan berdampak langsung terhadap daya saing global Indonesia dalam menghadapi era kecerdasan artifisial dan transisi energi.

Lebih lanjut, Mulyadin mengimbau agar pesantren dan madrasah di bawah naungan NU mulai merintis program unggulan berbasis teknologi informasi, robotika, hingga pertanian modern. Lulusan dari lembaga-lembaga ini diharapkan memiliki jalur pendidikan yang jelas menuju perguruan tinggi berbasis STEM, baik di jaringan internal NU maupun lewat kemitraan global.

Sementara itu, Ketua PBNU Bidang Pendidikan, Dr. KH. Ahmad Suaedy, menyuarakan pentingnya konsep "Aswaja turn", yakni pemikiran yang menempatkan Ahlussunnah wal Jamaah sebagai landasan utama pengembangan ilmu pengetahuan. Ia mengingatkan kembali sejarah kejayaan intelektual Islam abad pertengahan yang lahir dari tingginya atensi para ulama terdahulu terhadap sains dan riset empiris.

Tantangan tata kelola juga disoroti oleh Staf Ahli Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Dr. Muhammad Hasan Chabibie. Ia memaparkan bahwa perguruan tinggi NU harus mulai beralih dari sekadar persoalan administratif menuju penguatan riset dan inovasi. Upaya ini memerlukan komitmen jangka panjang serta manajemen profesional agar mampu menghasilkan ilmuwan dan teknolog yang berkontribusi bagi kemaslahatan masyarakat.