Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi memperkuat upaya pelestarian sumber daya air melalui kerja sama strategis dengan perusahaan teknologi asal Korea Selatan, Stellarvision. Kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Proof of Concept (PoC) yang berlangsung di kampus UGM pada Jumat (10/7), guna mengembangkan sistem deteksi dini kebocoran pipa air bawah tanah menggunakan citra satelit.
Teknologi yang diusung dalam kemitraan ini adalah Fluidvision milik Stellarvision, yang memanfaatkan data Synthetic Aperture Radar (SAR). Selama enam bulan ke depan, teknologi tersebut akan diuji coba melalui fasilitas testbed di Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM, Sleman. Simulasi kebocoran pipa akan dilakukan secara terkontrol untuk memastikan akurasi teknologi dalam mengidentifikasi titik kerusakan di bawah permukaan tanah yang selama ini sulit dideteksi secara manual.
Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan langkah nyata dalam menanggulangi kehilangan sumber daya air akibat kebocoran infrastruktur. Menurutnya, sinergi ini tidak hanya melibatkan aspek teknis, tetapi juga memperkuat hubungan profesional karena adanya peran alumni UGM dalam pengembangan teknologi tersebut di Stellarvision.
UGM berkomitmen penuh untuk menjaga integritas dan profesionalisme selama masa penelitian berlangsung. Perlindungan terhadap Hak Kekayaan Intelektual (HKI) serta kerahasiaan data menjadi prioritas utama bagi kedua belah pihak. Kerja sama ini diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang memberikan dampak luas bagi peningkatan efisiensi dan keberlanjutan pengelolaan air di Indonesia.