Kebiasaan mengonsumsi kopi susu kekinian telah menjadi bagian erat dari gaya hidup generasi muda di Indonesia. Namun, di balik tren yang digandrungi ini, bayang-bayang penyakit diabetes melitus kian nyata. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi diabetes pada penduduk usia 15 tahun ke atas telah menyentuh angka 11,7 persen. Angka ini menempatkan Indonesia di peringkat kelima dunia dengan jumlah penyandang diabetes melampaui 20 juta orang. Salah satu pemicu utamanya adalah tingginya konsumsi gula harian, termasuk dari segelas es kopi susu yang kadar gulanya bisa mencapai 25 gram, atau setengah dari batas maksimal harian yang direkomendasikan Kementerian Kesehatan.
Menyadari risiko kesehatan tersebut, sebagian masyarakat mulai beralih memilih opsi kopi rendah gula (less sugar) atau tanpa gula sama sekali (no sugar). Ketua Perkumpulan Edukator Diabetes Indonesia (PEDI), dr. Ida Ayu Made Kshanti, memaparkan bahwa langkah membatasi pemanis pada kopi memang berdampak positif bagi tubuh. Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa kebiasaan ini saja belum cukup untuk sepenuhnya menangkal diabetes. Sumber gula tidak hanya berasal dari pemanis tambahan pada minuman, melainkan juga dari karbohidrat olahan dan makanan pokok yang dikonsumsi sehari-hari.
Dokter Ida juga menyarankan konsumen untuk lebih jeli melihat komposisi keseluruhan dari minuman yang mereka beli. Meskipun dipesan dengan label rendah gula, bahan pelengkap lain seperti krimer, susu, atau sirup perasa tambahan tetap menyumbang kalori dan karbohidrat yang akan dipecah menjadi glukosa oleh tubuh. Oleh karena itu, pencegahan diabetes yang efektif menuntut kesadaran penuh terhadap total asupan nutrisi harian secara holistik.
Sebagai informasi, diabetes melitus merupakan kondisi kronis di mana kadar gula darah melonjak melebihi batas normal 180 mg/dL akibat ketidakmampuan tubuh memproduksi atau merespons hormon insulin dengan baik. Penyakit ini kerap berkembang tanpa gejala klinis yang khas di awal perkembangannya. Apabila diabaikan tanpa tata laksana medis dan perbaikan gaya hidup, diabetes berpotensi memicu komplikasi fatal seperti penyakit jantung, stroke, kerusakan saraf kronis, gagal ginjal, hingga kebutaan.