Pasar tenaga kerja mencatatkan performa stabil dengan catatan positif sepanjang semester pertama tahun 2026. Data Biro Statistik Tenaga Kerja menunjukkan jumlah angkatan kerja mencapai 52,7 juta orang, sebuah peningkatan signifikan sebanyak 688.000 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tidak hanya dari segi kuantitas, tingkat kesejahteraan pekerja juga membaik dengan rata-rata pendapatan bulanan yang melonjak 7,3% menjadi 10 juta VND, diiringi tingkat pengangguran yang tetap terjaga di angka 2,22%.

Terlepas dari angka makro yang menjanjikan, dinamika pasar tenaga kerja sedang menghadapi tantangan fundamental akibat adopsi kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi digital. Survei dari Navigos Group terhadap lebih dari 250 perusahaan mengindikasikan bahwa posisi administratif, entri data, telemarketing, serta pekerjaan manual berisiko tinggi mengalami penyusutan dalam kurun waktu tiga hingga lima tahun mendatang. Algoritma kini mampu mengotomatisasi tugas-tugas rutin yang sebelumnya menjadi tumpuan banyak pekerja.

Menanggapi fenomena ini, para pakar menekankan pentingnya pergeseran paradigma dari kekhawatiran menjadi kesiapan proaktif. Wakil Direktur Pusat Layanan Ketenagakerjaan Hanoi, Vu Quang Thanh, menegaskan bahwa adaptasi adalah kunci. Institusi pendidikan kini didorong untuk menjalin kemitraan erat dengan dunia industri, menyematkan literasi digital, serta keterampilan lunak ke dalam kurikulum agar lulusan memiliki relevansi tinggi dengan kebutuhan pasar yang berbasis teknologi.

Senada dengan hal tersebut, ekonom Dr. Nguyen Minh Phong menyoroti bahwa perkembangan teknologi tak terelakkan dalam mengubah struktur ekonomi dan permintaan tenaga kerja. Meski risiko hilangnya pekerjaan konvensional adalah nyata, peluang profesi baru akan terus bermunculan seiring inovasi yang terjadi. Oleh karena itu, sinergi antara kebijakan pemerintah, sistem hukum yang adaptif, dan semangat belajar kembali (reskilling) bagi pekerja menjadi fondasi utama dalam menghadapi tantangan era otomatisasi ini.