Pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, menjadi tonggak sejarah baru dalam pemanfaatan teknologi modern. Perhelatan akbar di awal abad kedua NU ini tidak sekadar menjadi forum spiritual, melainkan panggung unjuk gigi bagi transformasi digital berbasis kecerdasan buatan (AI) dan teknologi microchip yang dikembangkan secara mandiri oleh para santri.
Ketua Panitia Pelaksana (OC) Muktamar ke-35 NU, Mochammad Saefullah Yusuf (Gus Ipul), menegaskan bahwa kurikulum dan keahlian di lingkungan pesantren kini telah berkembang pesat mengikuti tuntutan zaman. Ia menekankan bahwa generasi santri masa kini tidak hanya mumpuni dalam menelaah kitab-kitab klasik keagamaan, melainkan juga piawai mengolah data digital, merancang cip, serta mengoperasikan kecerdasan buatan.
Sistem berbasis digital ini diaplikasikan langsung untuk mengelola operasional vital muktamar. Mulai dari pendaftaran peserta, validasi identitas, monitoring kehadiran di ruang sidang, hingga pengaturan hak akses peserta (muktamirin). Keamanan area pesantren juga diperketat dengan pemasangan lebih dari 1.500 kamera pengawas (CCTV) yang terintegrasi langsung ke dalam pusat kendali bertenaga AI.
Seluruh infrastruktur digital ini dirancang penuh oleh tim internal yang dipimpin oleh Gus Robi bersama para santri tanpa campur tangan pihak eksternal. Kemampuan menyelesaikan proyek berskala besar dalam waktu singkat ini menjadi pembuktian nyata kapasitas teknologi dan kemandirian SDM NU di kancah nasional.
Selain inovasi teknologi, panitia juga menyiapkan infrastruktur fisik berupa ruang sidang, asrama, hingga sembilan menara pemukiman bagi ribuan delegasi yang berasal dari 38 Pengurus Wilayah (PWNU), 550 lebih Pengurus Cabang (PCNU), serta 33 Pengurus Cabang Istimewa (PCINU) luar negeri.
Hajatan besar ini dibuka langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Acara tersebut turut dihadiri oleh sejumlah tokoh bangsa, termasuk Wakil Presiden ke-13 RI KH Ma’ruf Amin, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla, jajaran menteri Kabinet Merah Putih, serta para pimpinan ormas keagamaan nasional seperti Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir.