Gangguan irama jantung atau aritmia kini tidak sekadar diredam dengan obat-obatan, melainkan dapat disembuhkan secara total melalui tindakan ablasi. Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari Brawijaya Hospital Saharjo, dr. Simon Salim, menegaskan bahwa ablasi masih memegang predikat sebagai standar penanganan utama untuk memutus sumber gangguan kelistrikan jantung tersebut. Langkah medis ini diambil terutama jika konsumsi obat dalam jangka panjang tidak lagi memberikan respons optimal atau memicu efek samping yang merugikan bagi pasien.

Keberhasilan prosedur ablasi sangat dipengaruhi oleh karakteristik jenis aritmia yang diderita. Pada kasus tertentu, tingkat kesembuhannya mampu menyentuh angka 99 persen, sedangkan pada variasi gangguan lainnya berkisar antara 50 hingga 70 persen. Dokter Simon juga meluruskan persepsi masyarakat dengan menjelaskan bahwa tidak semua kasus aritmia dipicu oleh penyumbatan pembuluh darah koroner, meskipun keduanya berbagi faktor risiko serupa seperti kebiasaan merokok, hipertensi, dan diabetes.

Menariknya, pemanfaatan teknologi modern seperti jam tangan pintar (smartwatch) kini dapat diandalkan sebagai metode deteksi dini secara mandiri. Kendati demikian, hasil pemantauan gawai tersebut tetap memerlukan konfirmasi medis lanjutan melalui pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) guna menghindari distorsi data. Deteksi dini dinilai sangat krusial mengingat sebagian jenis aritmia dapat berlangsung tanpa gejala yang disadari, namun menyimpan potensi bahaya henti jantung mendadak.

Di sisi lain, kemajuan teknologi kedokteran kardiovaskular juga terus berkembang pesat. Brawijaya Hospital Group kini menghadirkan layanan Minimally Invasive Cardiac Surgery (MICS) atau operasi jantung dengan luka sayatan minimal. Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular Brawijaya Hospital Taman Mini, Dr. dr. Ismail Dilawar, memaparkan bahwa inovasi ini meminimalkan trauma pembedahan tanpa harus membelah tulang dada pasien, sehingga rasa nyeri pascaoperasi jauh berkurang dan mempercepat kepulangan pasien.

Implementasi teknik MICS ini mencakup penanganan penyakit jantung koroner hingga kelainan katup bawaan. Fenomena menarik lainnya yang diungkapkan oleh dr. Ismail adalah pergeseran usia pasien penyakit jantung koroner yang membutuhkan tindakan bedah bypass. Akibat gaya hidup sedentarian atau kurang bergerak, pasien dalam rentang usia produktif 33 hingga 38 tahun kini semakin sering ditemukan menjalani prosedur operasi jantung yang dahulu didominasi kelompok lansia.