PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menegaskan komitmennya untuk tidak melakukan perubahan pada Rencana Bisnis Bank (RBB) yang telah ditetapkan. Meski kondisi ekonomi global maupun domestik sedang menghadapi fase ketidakpastian, manajemen BNI menilai bahwa seluruh target yang diajukan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih berada dalam jalur yang tepat.

Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, menyatakan bahwa hingga semester pertama tahun 2026, realisasi kinerja perusahaan menunjukkan hasil yang memuaskan. Hingga Mei 2026, perseroan berhasil mencatatkan laba bersih individual sebesar Rp9,05 triliun, angka yang menunjukkan pertumbuhan sebesar 7,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kinerja positif ini diperkuat dengan kenaikan pendapatan bunga bersih (NII) yang mencapai Rp18,12 triliun, tumbuh signifikan sebesar 15,19% secara tahunan. Paolo menyebut pencapaian ini merupakan salah satu yang tertinggi di antara bank-bank besar lainnya. Pertumbuhan ini sejalan dengan penyaluran kredit perusahaan yang melonjak 24,5% menjadi Rp940,88 triliun pada periode yang sama.

Di sisi lain, BNI tetap melakukan langkah mitigasi risiko di tengah dinamika pasar. Perseroan meningkatkan pencadangan impairment hingga Rp3,72 triliun atau naik 30,53% secara year on year. Langkah antisipatif ini diambil guna menjaga stabilitas keuangan perusahaan meskipun manajemen tetap optimistis bahwa fundamental ekonomi akan terus membaik ke depannya.

Sejauh ini, target pertumbuhan kredit tahunan yang dipatok di kisaran 8–10% diprediksi akan tercapai, mengingat realisasi pada kuartal pertama saja sudah menembus angka 20,1%. Dengan didukung oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai 33,15%, BNI merasa cukup percaya diri untuk terus mengeksekusi strategi bisnis yang ada tanpa perlu melakukan penyesuaian target.