Guna mengantisipasi penyebaran penyakit rabies, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Profesi Kesehatan Universitas Hasanuddin (Unhas) meluncurkan inisiatif edukatif bertajuk Program SAHABAT. Kegiatan sosialisasi ini menyasar seluruh dusun di Desa Bulucenrana secara bertahap pada pertengahan Juli hingga awal Agustus 2026, bertepatan dengan agenda Posyandu setempat.

Langkah preventif ini diambil sebagai respons atas tingginya populasi anjing peliharaan maupun anjing penjaga milik warga di Desa Bulucenrana. Tingginya interaksi antara warga dan hewan penular rabies (HPR) tersebut mendorong mahasiswa untuk memberikan pembekalan pemahaman mendalam mengenai bahaya serta metode penanganan virus mematikan ini.

Dalam sosialisasi tersebut, warga dibekali dengan informasi komprehensif mulai dari mengenali gejala klinis hewan pengidap rabies, pentingnya pemberian vaksin hewan peliharaan secara berkala, hingga rantai penularannya. Tak hanya teori, edukasi ini juga menekankan prosedur pertolongan pertama yang krusial saat terjadi kasus gigitan hewan terinfeksi sebelum korban dirujuk ke fasilitas kesehatan.

Untuk memastikan efektivitas pemaparan materi, tim KKN Unhas menerapkan metode evaluasi berupa pengisian lembar uji pengetahuan awal (pre-test) dan uji akhir (post-test) bagi para peserta. Sesi pemaparan materi pun berlangsung interaktif dengan ruang diskusi dua arah, ditutup dengan pembagian selebaran (leaflet) informatif sebagai panduan praktis warga di rumah.

Kepala Puskesmas Dongi, Hj. Andi Darnah, mengapresiasi tinggi inisiatif ini. Menurutnya, terjunnya mahasiswa ke lapangan dapat mengubah pola pikir masyarakat dalam merespons gigitan hewan. Pengetahuan dasar seperti mencuci luka dengan air mengalir dan sabun dinilai sangat vital untuk menekan risiko fatalitas akibat rabies sebelum ditangani secara medis.

Melalui Program SAHABAT ini, kesadaran kolektif masyarakat Bulucenrana diharapkan terus meningkat. Dengan sinergi pemeliharaan hewan yang bertanggung jawab serta kecepatan penanganan darurat, desa ini diharapkan dapat meminimalkan potensi ancaman penularan virus rabies di lingkungan sekitar.