Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) mengambil langkah progresif untuk mempercepat penemuan kasus Tuberkulosis (TB). Melalui program pelacakan (tracing) dan skrining yang diintegrasikan dengan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG), langkah ini menjadi bagian dari komitmen nyata menyukseskan target eliminasi TB nasional pada tahun 2030 mendatang.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Kota Kediri, dr. Hamida, Sp.P, menjelaskan bahwa program deteksi dini ini menyasar 50 titik lokasi (lokus) yang tersebar di wilayah kerja sembilan puskesmas. Pelaksanaan program dijadwalkan berlangsung secara bertahap mulai Agustus hingga September, serta akan berlanjut pada awal November 2026. Hingga akhir Agustus, skrining telah merambah 12 lokasi dengan target 100 warga per lokasi, terutama mereka yang memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TB.

Langkah taktis ini merujuk pada arahan Kementerian Kesehatan RI untuk memperkuat penemuan kasus sejak dini di tingkat komunitas. Berdasarkan data nasional, diperkirakan terdapat sekitar 1.080.000 kasus baru TB setiap tahunnya. Sementara di Kota Kediri sendiri, tercatat sebanyak 1.240 kasus TB telah berhasil diidentifikasi sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Menurut dr. Hamida, semakin cepat kasus ditemukan, semakin cepat pula pengobatan dapat diberikan untuk memutus rantai penularan.

Dalam pelaksanaannya di lapangan, skrining ini mengandalkan teknologi alat X-ray portabel yang dibawa langsung ke lokasi sasaran. Keberadaan teknologi ini memudahkan deteksi paru-paru warga secara cepat dan efisien. Guna mengoptimalkan pelayanan, Dinkes Kota Kediri berkolaborasi dengan tenaga medis puskesmas setempat serta radiografer dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kilisuci.

Bagi warga yang terindikasi mengalami gejala TB berdasarkan hasil foto rontgen, Dinkes akan langsung merujuk mereka ke dokter spesialis paru untuk pemeriksaan lanjutan. Jika terdiagnosis positif, pasien akan segera mendapatkan penanganan medis dan obat gratis di puskesmas terdekat. Masyarakat juga diimbau untuk mengenali gejala awal TB, seperti batuk terus-menerus selama lebih dari dua minggu, penurunan nafsu makan, penurunan berat badan, demam berkepanjangan, serta berkeringat dingin pada malam hari meski tanpa aktivitas.

Menutup penjelasannya, dr. Hamida menekankan pentingnya kedisiplinan pasien dalam mengonsumsi obat hingga tuntas demi mencegah resistensi kuman. Keberhasilan eliminasi TB tidak hanya bertumpu pada tenaga kesehatan, melainkan membutuhkan sinergi dari seluruh elemen masyarakat, mulai dari pihak kelurahan, Bhabinkamtibmas, hingga dukungan penuh dari pihak keluarga pasien.