Buah-buahan sejak lama dikenal sebagai sumber vitamin dan nutrisi penting bagi tubuh manusia. Namun, di balik cita rasa manisnya, terkandung fruktosa atau gula buah yang ternyata perlu dicermati pola konsumsinya. Seorang Guru Besar dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Prof Antonius Suwanto, memberikan penjelasan ilmiah mengenai dampak asupan fruktosa yang berlebihan terhadap kesehatan.

Dalam tayangan IPB Podcast melalui kanal YouTube IPB TV yang dikutip pada Jumat, 26 Juni 2026, pakar mikrobiologi, bioteknologi, dan genetika molekuler tersebut menegaskan bahwa fruktosa memiliki jalur metabolisme yang berbeda secara signifikan dibandingkan glukosa. Bila glukosa dimanfaatkan oleh berbagai sel tubuh sebagai bahan bakar energi, fruktosa justru sebagian besar diproses di organ hati melalui mekanisme khusus yang memungkinkannya langsung dikonversi menjadi lemak.

Prof Antonius menjabarkan bahwa proses konversi fruktosa menjadi lemak di hati memerlukan pasokan energi besar yang bersumber dari adenosin trifosfat (ATP). Ketika ATP dikuras secara masif untuk mengolah fruktosa dalam jumlah tinggi, tubuh menghasilkan senyawa turunan yang pada tahap akhir berubah menjadi asam urat. Dengan kata lain, semakin banyak fruktosa yang masuk ke dalam tubuh, semakin besar pula potensi penumpukan asam urat sebagai produk sampingan metabolisme tersebut.

Dampak kelebihan asam urat tidak sebatas pada gangguan persendian atau penyakit gout yang kerap dikeluhkan masyarakat. Menurut Prof Antonius, asam urat juga mampu menekan ketersediaan nitric oxide, yakni senyawa yang berperan vital dalam menjaga elastisitas pembuluh darah. Berkurangnya nitric oxide menyebabkan pembuluh darah menjadi lebih kaku, yang pada gilirannya berpotensi mendorong peningkatan tekanan darah atau hipertensi.

Menariknya, kemampuan tubuh mengubah fruktosa menjadi cadangan lemak sesungguhnya merupakan warisan mekanisme evolusi. Pada masa lampau, ketika ketersediaan pangan sangat terbatas dan buah hanya dapat diperoleh pada musim tertentu, simpanan lemak dari fruktosa menjadi bekal penting untuk bertahan hidup. Namun kondisi zaman modern telah mengubah konteks tersebut secara drastis.

Saat ini, sumber fruktosa tersebar luas dalam berbagai produk konsumsi harian, mulai dari gula pasir, minuman kemasan manis, permen, aneka kue, hingga beragam makanan olahan. Kemudahan akses terhadap makanan dan minuman tinggi fruktosa inilah yang menurut Prof Antonius menjadikan mekanisme penyimpanan lemak yang semula berfungsi sebagai strategi bertahan hidup justru berbalik menjadi pemicu berbagai penyakit metabolik.

Menanggapi realitas tersebut, Guru Besar IPB University ini mengimbau masyarakat agar tetap mengonsumsi buah dan makanan manis secara proporsional dan seimbang. Pola makan yang bijaksana menjadi kunci untuk menekan risiko asam urat, hipertensi, obesitas, serta gangguan metabolisme lainnya yang kini semakin banyak ditemui di tengah masyarakat.