Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyoroti pergeseran krusial dalam dunia komunikasi profesional di tengah era post-truth. Dalam gelaran Kick Off Konvensi Humas Indonesia 2026, ia menegaskan bahwa praktisi humas kini memikul tanggung jawab besar sebagai 'penjernih informasi' atau clearing house of information guna membendung arus misinformasi dan disinformasi yang masif.

Nezar menyebutkan bahwa tantangan ini telah menjadi ancaman global yang serius, sebagaimana disorot oleh World Economic Forum. Di tengah maraknya penggunaan platform digital, humas dituntut untuk mampu menjaga kredibilitas dan kepercayaan publik yang kerap tergerus oleh konten-konten menyesatkan yang mengaburkan batas antara fakta dan opini.

Lebih lanjut, Nezar mengakui bahwa kehadiran teknologi kecerdasan artifisial (AI) memberikan efisiensi yang signifikan dalam analisis sentimen dan pembuatan narasi. Namun, ia mengingatkan bahwa otomatisasi melalui 'agentic AI' yang mampu bekerja selama 24 jam penuh memberikan tekanan kompetitif bagi tenaga kerja manusia agar tidak tergeser oleh sistem.

Meski teknologi terus berkembang, Nezar menekankan bahwa aspek kemanusiaan seperti empati, integritas, dan ketulusan tetap menjadi keunggulan mutlak yang tidak dimiliki oleh mesin. Ia mendorong para praktisi humas untuk mengasah kemampuan berpikir kritis dan memperkuat etika sebagai fondasi utama dalam menghadapi otomatisasi yang tak terelakkan.

Sebagai langkah strategis, pemerintah kini tengah berupaya menyeimbangkan antara regulasi AI yang adaptif dengan prinsip transparansi dan keamanan nasional. Para humas diharapkan mampu memanfaatkan dinamika ini untuk membangun narasi konstruktif yang memperkuat posisi Indonesia di mata dunia melalui strategi komunikasi yang etis dan inovatif.