Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyoroti fenomena viral mengenai penggunaan Air Susu Ibu (ASI) bubuk yang marak di tengah masyarakat. Organisasi profesi dokter anak tersebut secara tegas mengingatkan bahwa metode menyusui secara langsung (Direct Breastfeeding) tetap merupakan cara terbaik dan paling aman untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tumbuh kembang bayi.

Tren mengubah ASI menjadi bentuk bubuk ini dinilai belum memiliki dasar ilmiah yang kuat serta belum mendapatkan rekomendasi resmi dari otoritas kesehatan berwenang. Para pakar kesehatan mengkhawatirkan adanya risiko penurunan kualitas nutrisi esensial serta potensi kontaminasi bakteri selama proses pengolahan, yang dapat membahayakan sistem pencernaan bayi yang masih sangat sensitif.

Selain aspek nutrisi, menyusui secara langsung juga memiliki peran krusial dalam membangun ikatan emosional yang kuat antara ibu dan anak. IDAI menegaskan bahwa ASI segar mengandung antibodi alami dan zat gizi aktif yang tidak dapat digantikan oleh produk olahan hasil rekayasa bentuk, apalagi yang belum teruji keamanannya secara klinis.

Oleh karena itu, para ibu diimbau untuk tetap memprioritaskan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan buah hati. Jika mengalami kendala selama proses menyusui, masyarakat disarankan berkonsultasi langsung dengan konselor laktasi atau tenaga medis profesional alih-alih mengikuti tren laktasi instan di media sosial.