Pertumbuhan ekonomi Singapura dilaporkan mulai kehilangan momentum pada kuartal II-2026. Meskipun mencatatkan kinerja di atas ekspektasi pasar, laju ekspansi Produk Domestik Bruto (PDB) negara singa tersebut terpantau melambat dibandingkan triwulan sebelumnya akibat meningkatnya tensi geopolitik global.

Berdasarkan data awal dari Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI) Singapura yang dirilis pada Selasa (14/7/2026), ekonomi Singapura tumbuh sebesar 5,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini melampaui konsensus para ekonom yang disurvei Reuters sebesar 5,5 persen, namun melandai dibandingkan realisasi kuartal I-2026 yang tumbuh kuat di angka 6,3 persen.

Perlambatan ini terutama dipicu oleh sektor jasa yang mulai kehilangan tenaga, dengan pertumbuhan melorot ke angka 4,6 persen dari kuartal sebelumnya yang sebesar 6,2 persen. Sebaliknya, sektor industri penghasil barang, khususnya manufaktur, masih menjadi penopang utama dengan mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 10,4 persen, naik dari 8,4 persen pada triwulan lalu.

Ekonom Senior DBS Bank, Chua Han Teng, menilai bahwa perekonomian Singapura masih menunjukkan ketahanan yang cukup solid meskipun sempat terdistorsi oleh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kendati demikian, ia memperkirakan tren perlambatan pertumbuhan akan terus berlanjut pada kuartal-kuartal berikutnya akibat dampak basis perbandingan yang tinggi (high base effect) serta ketidakpastian iklim ekonomi global.

Sebelumnya, MTI menetapkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Singapura sepanjang tahun 2026 berada di kisaran 2 hingga 4 persen. Pemerintah Singapura tidak menampik adanya peningkatan risiko penurunan kinerja ekonomi yang signifikan, seiring dengan eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Rilis data pertumbuhan ini juga bertepatan menjelang pertemuan kebijakan moneter Otoritas Moneter Singapura (MAS) akhir bulan ini. Berbeda dengan bank sentral global lainnya, MAS menstabilkan ekonomi menggunakan mekanisme nilai tukar dolar Singapura terhadap mata uang negara mitra dagang utama. Di sisi lain, inflasi Singapura pada Mei lalu tercatat bertahan di angka 1,8 persen, dengan estimasi tahunan berada di kisaran 1,5 hingga 2,5 persen akibat tingginya harga energi dunia.