Ajang pameran industri percetakan berskala nasional, Surabaya Printing Expo (SPE) 2026, resmi dibuka di Grand City Convex, Surabaya, pada Rabu (8/7/2026). Memasuki penyelenggaraan ke-19, pameran ini menyoroti transformasi digital melalui integrasi kecerdasan buatan (AI) yang kini menjadi standar baru untuk meningkatkan daya saing industri kreatif di tanah air.
CEO Krista Exhibitions, Daud Salim, menjelaskan bahwa kehadiran 150 peserta pameran tahun ini didominasi oleh teknologi mesin pintar yang mencakup berbagai sektor, mulai dari periklanan, tekstil, hingga industri pengemasan. Dengan berbagai promo khusus selama empat hari acara, SPE 2026 optimistis mampu mencatatkan volume transaksi hingga ratusan miliar rupiah, mengingat tingginya minat investasi pengusaha terhadap mesin produksi canggih.
Kendati perputaran ekonomi sektor ini sangat masif, ketergantungan pada perangkat keras luar negeri masih menjadi catatan penting. Daud memaparkan bahwa 95 persen mesin cetak masih diimpor dari Tiongkok dan Jepang. Sebaliknya, ekosistem bahan pendukung menunjukkan kemandirian yang lebih baik, di mana 90 persen kebutuhan tinta telah dipenuhi oleh produsen lokal, begitu pula dengan ketersediaan kertas dan bahan vinyl.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan dukungan penuh terhadap sektor ini. Kepala Dinas Kominfo Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, mencatat bahwa industri percetakan di Jawa Timur menyumbang PDRB sebesar Rp 27,64 triliun pada tahun 2025. Pertumbuhan rata-rata 11,42 persen dalam tiga tahun terakhir didorong oleh tingginya penetrasi internet yang mempermudah operasional berbasis digital.
Namun, transisi menuju teknologi pintar juga membawa tantangan baru. Sherlita menekankan urgensi peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) serta perlindungan data pribadi dan hak cipta desain di tengah maraknya penggunaan AI pada dokumen sensitif. Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI), Ahmad Mughira Nurhani, mendorong pengusaha untuk lebih selektif dalam memilih mesin yang efisien, terutama dalam menekan biaya operasional bahan baku yang mencapai 70 persen dari struktur harga jual.