Hubungan antara kondisi mental dan kesehatan fisik kini semakin jelas terbukti. Sebuah penelitian terbaru terhadap 391 responden dewasa mengungkapkan bahwa tekanan psikologis seperti stres dan kecemasan memiliki korelasi kuat terhadap munculnya keluhan nyeri otot atau gangguan muskuloskeletal. Temuan ini menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan emosional untuk menghindari keluhan fisik yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Berdasarkan hasil studi tersebut, kecemasan menjadi gangguan psikologis paling dominan yang dialami responden dengan prevalensi mencapai 45 persen. Posisi berikutnya diikuti oleh depresi sebesar 36,3 persen dan tingkat stres yang berada di angka 22,5 persen. Peneliti juga mencatat bahwa kelompok usia muda antara 18 hingga 39 tahun, individu yang belum menikah, serta kelompok berpendidikan tinggi menunjukkan kerentanan yang lebih besar terhadap tekanan mental ini.

Dari sisi kesehatan fisik, hampir separuh dari total responden (44,3 persen) mengeluhkan ketidaknyamanan pada sistem otot dan rangka dalam sepekan terakhir. Nyeri pada bagian leher menjadi keluhan yang paling sering dirasakan (18,2 persen), diikuti oleh nyeri bahu (17,1 persen) dan nyeri punggung bagian bawah (17,1 persen). Gangguan fisik semacam ini secara langsung berdampak pada penurunan produktivitas serta menurunkan kualitas hidup individu yang terdampak.

Korelasi antara kedua aspek kesehatan ini dipicu oleh gaya hidup yang memburuk saat seseorang mengalami stres. Mereka yang tertekan cenderung mengabaikan pola hidup sehat, seperti kurang berolahraga, terlalu lama duduk dengan postur tubuh yang salah, serta memiliki kualitas tidur yang buruk. Di sisi lain, rasa nyeri fisik yang berkepanjangan juga dapat memperparah kondisi psikologis penderita, menciptakan lingkaran masalah yang saling memperburuk satu sama lain.

Dr. Hariyono, M. Kep, akademisi dari Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga sekaligus penulis riset ini, menekankan pentingnya pendekatan medis yang terintegrasi. Untuk mengatasi gangguan otot secara efektif, penanganan tidak boleh hanya berfokus pada terapi fisik saja, melainkan harus menyentuh pengelolaan kesehatan mental pasien secara komprehensif, khususnya di era pascapandemi saat ini.