Tren memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai teman berbagi keluh kesah atau sarana menjaga kesehatan mental kini tengah marak, khususnya di kalangan generasi muda. Layanan yang dinilai praktis, bebas dari penilaian subjektif, serta beroperasi penuh selama 24 jam menjadi alasan utama popularitasnya meningkat pesat. Namun, sebuah riset ilmiah terbaru dari Universitas Isfahan di Iran memberikan peringatan keras mengenai potensi bahaya di balik kebiasaan ini jika dilakukan tanpa pengawasan tenaga ahli.
Studi yang telah diterbitkan dalam Journal of Psychopathology and Clinical Science tersebut menguji kinerja sejumlah platform AI populer, seperti ChatGPT, Google Gemini, dan Meta AI. Penelitian ini mengungkapkan perbedaan mendasar antara aplikasi kecerdasan buatan yang dirancang khusus untuk terapi psikologis dengan chatbot multiguna. Meski platform khusus seperti Wysa dapat memberikan bantuan awal, chatbot umum justru dinilai berisiko tinggi memperparah gangguan psikologis pengguna.
Peneliti utama dalam studi tersebut, Abasi Jondani, memaparkan bahwa algoritma chatbot umum cenderung didesain untuk bersikap sangat ramah dan selalu membenarkan opini pengguna. Karakteristik ini justru dapat menjebak individu yang rentan secara emosional ke dalam siklus pemikiran yang destruktif. Ia menegaskan bahwa teknologi tersebut sama sekali tidak dibekali protokol penanganan krisis ataupun sistem proteksi khusus untuk kasus psikiatri yang sensitif.
Lebih lanjut, Jondani menjabarkan beberapa dampak buruk yang mengintai pengguna. Pertama, kemudahan dan efisiensi biaya yang ditawarkan AI dapat memicu ilusi bahwa seseorang telah menerima penanganan yang memadai. Akibatnya, mereka cenderung menunda atau bahkan enggan mencari pertolongan medis dari psikolog atau psikiater profesional yang sebenarnya sangat mereka butuhkan.
Kedua, interaksi intensif dengan kecerdasan buatan berpotensi memperparah kecemasan dan gejala gangguan obsesif-kompulsif (OCD). Alih-alih meredakan kekhawatiran, respons berulang yang terus-menerus memberikan kepastian dari AI justru memperkuat ketergantungan psikologis pengguna terhadap validasi mesin. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap memprioritaskan konsultasi dengan ahli medis profesional demi penanganan kesehatan mental yang aman dan terukur.