Penyebaran virus Mpox (cacar monyet) yang kian meluas di tingkat global mendorong para peneliti untuk terus merumuskan strategi penanganan yang lebih efektif. Sejak ditetapkan sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (PHEIC) oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Agustus 2024, Mpox telah mencatatkan lebih dari 100.000 kasus terkonfirmasi di ratusan negara. Menghadapi ancaman ini, sebuah studi terbaru memanfaatkan pemodelan matematika dinamis guna memetakan jalur transmisi dan merumuskan intervensi pengendalian yang optimal.

Penyakit zoonosis yang pertama kali diidentifikasi pada tahun 1958 di Denmark ini menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh, lesi kulit, maupun droplet pernapasan dari manusia atau hewan yang terinfeksi. Selain penularan langsung, virus Mpox juga dapat menyebar secara tidak langsung melalui benda-benda yang terkontaminasi seperti pakaian dan tempat tidur, serta dari ibu hamil ke janinnya. Mengingat kompleksitas pola penularan tersebut, pendekatan berbasis data ilmiah sangat krusial dalam memprediksi arah epidemi.

Dalam riset bertajuk "Analisis Dinamis dan Kontrol Optimal Penyebaran Mpox dengan Model Kerentanan Bertingkat", tim peneliti yang terdiri dari T. Janan, Fatmawati, C. Alfiniyah, S. Martini, D. Aldila, dan A. Hasan mengembangkan model kompartemen matematika yang canggih. Model ini membagi populasi ke dalam kelompok risiko rendah dan risiko tinggi, serta menyertakan variabel individu yang divaksinasi dan penderita tanpa gejala (asimtomatik). Model ini divalidasi menggunakan data epidemiologi riil dari Amerika Serikat dengan tingkat akurasi tinggi, yang ditunjukkan oleh nilai Mean Absolute Percentage Error (MAPE) sebesar 2,20 persen.

Hasil analisis menunjukkan bahwa angka reproduksi dasar virus ini masih berada di atas angka satu, menandakan bahwa Mpox berpotensi tetap menjadi endemik jika tidak ada intervensi yang agresif. Peneliti menemukan bahwa tingkat kontak dengan pasien bergejala dan cakupan vaksinasi merupakan dua parameter paling sensitif yang memengaruhi laju penyebaran wabah. Oleh karena itu, menekan interaksi langsung dan memperluas imunisasi menjadi kunci utama dalam memutus rantai penularan.

Untuk mencapai hasil yang optimal, studi ini merekomendasikan tiga langkah kendali terintegrasi: intervensi pencegahan, pengobatan suportif bagi penderita, serta pengurangan kontak dengan hewan pengerat pembawa virus. Melalui analisis efektivitas biaya (ACER dan ICER), para peneliti menyimpulkan bahwa menerapkan ketiga langkah tersebut secara simultan merupakan strategi yang paling efisien dan berkelanjutan secara ekonomi untuk menekan penularan Mpox di masyarakat.