Lokasi tempat tinggal kini terbukti menjadi faktor krusial yang menentukan peluang bertahan hidup bagi penderita gagal jantung. Sebuah studi meta-analisis berskala global mengungkapkan adanya kesenjangan layanan kesehatan yang signifikan antara kawasan pedesaan (rural) dan perkotaan (urban), yang berdampak langsung pada tingkat fatalitas pasien.
Penelitian yang dipimpin oleh Arnindita dan timnya menganalisis data klinis dari sekitar 18,9 juta pasien gagal jantung yang tersebar di 20 studi lintas negara, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Italia, Kanada, dan Australia. Hasil analisis menunjukkan bahwa pasien di daerah pedesaan menghadapi risiko kematian 14 persen lebih tinggi dalam kurun waktu 30 hari setelah menjalani perawatan di rumah sakit dibandingkan dengan pasien perkotaan.
Tidak hanya dalam jangka pendek, risiko kematian jangka panjang bagi pasien pedesaan juga meningkat sebesar 9 persen setelah memperhitungkan berbagai variabel medis lainnya. Kesenjangan ini dipicu oleh kendala geografis yang memaksa pasien menempuh jarak jauh untuk menjangkau fasilitas kesehatan darurat maupun dokter spesialis kardiovaskular. Hambatan logistik ini sering kali memicu keterlambatan penanganan medis darurat saat gejala penyakit memburuk.
Selain kendala jarak, pasien di wilayah terpencil juga lebih jarang menerima terapi obat standar yang direkomendasikan secara global, seperti obat golongan beta-blocker dan penghambat sistem renin-angiotensin. Minimnya ketersediaan obat-obatan esensial ini, ditambah dengan keterbatasan alat diagnosis serta ketiadaan program rehabilitasi jantung, mempercepat penurunan kondisi kesehatan pasien secara kumulatif.
Penelitian ini turut mengungkap fenomena unik di mana durasi rawat inap pasien di daerah pedesaan tercatat hampir satu hari lebih singkat dibanding pasien perkotaan. Kendati terkesan positif, para peneliti memperingatkan bahwa masa rawat yang singkat ini bukan indikator pemulihan yang lebih baik. Hal ini disinyalir terjadi karena keterbatasan kapasitas rumah sakit rural, sehingga pasien dipaksa pulang lebih awal atau segera dirujuk ke pusat medis yang lebih besar.
Faktor sosial ekonomi juga memperparah situasi ini. Pendapatan yang rendah serta keterbatasan edukasi mengenai pengelolaan penyakit kronis membuat kepatuhan pasien pedesaan terhadap pengobatan mandiri menjadi sangat rendah. Sebagai solusi, para peneliti merekomendasikan perluasan jangkauan telemedicine, penguatan sistem rujukan, serta pemerataan cakupan asuransi kesehatan demi memangkas jurang pemisah kualitas layanan kesehatan ini.