Jakarta – Strategi transformasi bisnis yang dijalankan PT Tirta Mahakam Resources Tbk (TIRT) mulai menunjukkan hasil nyata. Emiten yang sebelumnya bergerak di sektor berbeda ini kini mencatat pertumbuhan kinerja keuangan yang signifikan setelah mengalihkan fokus operasionalnya ke bisnis angkutan laut sejak tahun lalu. Pada kuartal pertama 2026, perseroan berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp26,6 miliar dengan laba bersih mencapai Rp7,5 miliar.
Capaian tersebut menandai lompatan besar dibandingkan kinerja sepanjang tahun buku 2025, ketika TIRT mencatatkan pendapatan Rp13,66 miliar dari pengoperasian 20 unit armada kapal. Artinya, dalam kurun waktu tiga bulan pertama tahun 2026 saja, perseroan telah melampaui total pendapatan selama satu tahun penuh sebelumnya — sebuah indikasi kuat bahwa fondasi bisnis baru yang dibangun mulai membuahkan hasil secara konkret.
Presiden Direktur TIRT, Tham Arvin Setyanto, mengungkapkan bahwa perpindahan haluan menuju sektor angkutan laut merupakan keputusan strategis yang telah dipersiapkan secara terukur. Menurutnya, sepanjang 2025 perseroan telah menyelesaikan berbagai proses perizinan usaha serta mengamankan sejumlah kontrak penyewaan kapal sebagai landasan operasional.
"Transformasi menuju bisnis angkutan laut merupakan langkah penting dalam perjalanan TIRT. Pada tahun 2025, kami telah menyelesaikan berbagai perizinan yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan usaha angkutan laut, serta memperoleh sejumlah kontrak penyewaan kapal dengan pelanggan," jelas Tham Arvin Setyanto.
Dalam menjalankan roda bisnis barunya, TIRT menerapkan model bisnis berbasis business-to-business (B2B) dengan mengandalkan captive market sebagai tulang punggung pendapatan. Selain itu, perseroan juga aktif membuka peluang kerja sama dengan mitra-mitra strategis yang dinilai mampu mendorong ekspansi usaha, dengan tetap menjunjung tinggi prinsip tata kelola perusahaan yang baik.
Kendati demikian, TIRT menyadari bahwa industri pelayaran saat ini tidak lepas dari tantangan, terutama fluktuasi harga bahan bakar minyak yang dipicu oleh ketidakpastian geopolitik global. Untuk mengantisipasi tekanan tersebut, manajemen memilih strategi berbasis efisiensi — mulai dari mengoptimalkan tingkat utilisasi armada, memastikan seluruh kapal dalam kondisi laik berlayar, hingga menerapkan pengendalian biaya operasional secara ketat dan disiplin.
"Fokus utama kami saat ini adalah memastikan kegiatan usaha pelayaran dapat berjalan optimal sehingga dapat mendukung perbaikan posisi keuangan perseroan secara berkelanjutan. Selain itu, kami juga akan terus membangun fondasi tata kelola yang kuat agar dapat menciptakan nilai tambah bagi para pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan," tambah Tham Arvin Setyanto.
Pada pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang diselenggarakan pada 24 Juni 2026, seluruh agenda rapat mendapat persetujuan penuh dari para pemegang saham. Hal ini mencakup pengesahan Laporan Tahunan Perseroan untuk tahun buku 2025, yang meliputi laporan direksi, laporan pengawasan dewan komisaris, laporan keuangan auditan, serta laporan keberlanjutan perusahaan.
Ke depan, TIRT menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat lini bisnis angkutan laut dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian, efisiensi operasional, dan penerapan good corporate governance. Perseroan optimistis bahwa strategi yang konsisten ini akan mampu memperkokoh fundamental usaha sekaligus menjaga momentum pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan di tengah dinamika industri pelayaran yang terus bergerak.