Laporan terbaru yang dirilis oleh FPT dan Forrester Consulting mengungkapkan realitas di balik gelombang adopsi kecerdasan buatan (AI) di kalangan perusahaan global. Studi yang melibatkan hampir 400 pemimpin bisnis dan teknologi dari berbagai sektor ini menyoroti bahwa transisi AI dari sekadar proyek percontohan (pilot project) menuju penerapan di seluruh skala organisasi masih berada pada tahap awal yang menantang.

Data menunjukkan bahwa meski efisiensi operasional dan otomatisasi menjadi penggerak utama investasi—diakui oleh 48% responden—implementasi yang terjadi sejauh ini masih bersifat parsial. Kebanyakan perusahaan cenderung menggunakan AI untuk mengoptimalkan proses yang telah ada, alih-alih melakukan desain ulang terhadap model operasi bisnis secara menyeluruh. Tercatat hanya 34% perusahaan yang memprioritaskan peralihan ke model operasi berbasis AI.

Hambatan terbesar dalam proses ini bukan lagi terletak pada kecanggihan algoritma atau model AI itu sendiri, melainkan pada infrastruktur platform perusahaan. Sekitar 41% pemimpin bisnis menyatakan bahwa kesulitan dalam mengintegrasikan AI dengan sistem TI warisan (legacy) dan tantangan tata kelola data menjadi penghalang utama. Kesenjangan kematangan operasional ini semakin terlihat dengan fakta bahwa hanya 26% perusahaan yang menilai sistem mereka sudah siap untuk skala perusahaan, meskipun mayoritas telah mengalokasikan setidaknya 5% dari anggaran TI untuk teknologi ini.

Dalam merespons tantangan tersebut, pola kolaborasi perusahaan dengan mitra teknologi pun berubah. Fokus kini tidak lagi sekadar mencari penyedia teknologi, melainkan mencari mitra strategis yang mampu mendukung siklus hidup AI secara menyeluruh—mulai dari desain, manajemen, hingga optimasi berkelanjutan. Model 'bangun-operasikan-optimalkan' kini dianggap sebagai strategi krusial bagi perusahaan untuk meningkatkan daya saing di masa depan.

Keunggulan kompetitif di era mendatang diprediksi akan dimiliki oleh organisasi yang mampu menyelaraskan infrastruktur teknologi, keamanan, dan model operasional secara sistematis. Dengan prediksi keterlibatan agen AI dalam proses inti bisnis yang akan melonjak hingga 39% dalam dua tahun ke depan, kesiapan platform perusahaan menjadi syarat mutlak bagi keberlanjutan transformasi digital sebuah organisasi.