Lembaga konservasi Tropical Forest Conservation Action (TFCA) Sumatra merancang model bisnis kopi berkelanjutan guna menjamin kelangsungan perlindungan hutan pasca-berakhirnya program hibah. Melalui skema Siklus Hibah X Bisnis dan Konservasi, program ini mengintegrasikan seluruh rantai nilai mulai dari petani, unit pengolahan, koperasi, hingga akses pasar komoditas kopi.
Komoditas kopi dipilih karena dinilai mampu menyelaraskan kebutuhan ekonomi masyarakat dengan upaya pelestarian lingkungan. Melalui pembinaan budidaya yang ramah lingkungan, tekanan terhadap kawasan hutan akibat pembukaan lahan liar diharapkan dapat diminimalisasi secara signifikan.
Berdasarkan kajian internal TFCA-Sumatra, potensi lahan kopi binaan saat ini sangat menjanjikan. Untuk jenis Arabika, terdapat lahan seluas 725 hektare dengan kapasitas produksi 484 ton per tahun di wilayah Sipirok, Mandailing, dan Kerinci. Sementara untuk jenis Robusta, luas lahan mencapai hampir 47 ribu hektare yang tersebar di wilayah Serampas, Merangin, Kepahiang, Bengkulu, hingga Tanggamus.
Model bisnis ini dijalankan melalui tiga sektor yang terintegrasi secara simultan. Sektor hulu berfokus pada penguatan kapasitas petani dalam menerapkan Praktik Pertanian yang Baik (GAP) dan panen berkelanjutan. Sektor antara menitikberatkan pada proses pengolahan pascapanen guna menghasilkan biji kopi berkualitas tinggi. Sementara sektor hilir bertugas memastikan ketersediaan pembeli siaga (off-taker) serta menjamin ketertelusuran produk di pasar.
Guna merealisasikan ekosistem ini, TFCA-Sumatra menggandeng empat konsorsium utama, yakni Konsorsium Gayo, Konsorsium Caritas, Mitra AKSI, dan Konsorsium SUCCESS. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan melahirkan kemandirian ekonomi bagi petani lokal sekaligus mewariskan tata kelola hutan yang lestari demi generasi masa depan.