Sebanyak 96 mahasiswa Program Studi Kartografi dan Penginderaan Jauh (KPJ) Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) merampungkan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) 3 di Kabupaten Lombok Tengah. Kegiatan yang berlangsung pada akhir Juni hingga awal Juli 2026 ini menghasilkan 16 kajian geospasial strategis yang dirancang untuk mendukung arah pembangunan daerah setempat.

Selama masa observasi lapangan, para mahasiswa melakukan pemetaan di sejumlah titik krusial, seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Teluk Gerupuk, Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tunak, wilayah perkotaan Praya, serta Waduk Batujai. Mengusung metode analisis data lapangan berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) dan penginderaan jauh, kajian ini memotret kondisi lingkungan secara komprehensif.

Hasil riset yang dikompilasi cukup beragam dan menyentuh berbagai sektor penting. Beberapa di antaranya meliputi analisis kelestarian ekosistem mangrove dan lamun, pemetaan potensi bencana kekeringan serta tanah longsor, kesesuaian lahan untuk sektor pertanian, evaluasi kualitas permukiman, fenomena pulau panas perkotaan (urban heat island), hingga tingkat sedimentasi yang terjadi di Waduk Batujai.

Ketua Umum KKL 3 KPJ 2023, Adam Amirul Akbari, menjelaskan bahwa rangkaian kajian ini tidak sekadar ditujukan untuk memenuhi tuntutan akademis. Data geospasial yang dikumpulkan diharapkan dapat dimanfaatkan secara praktis oleh pemerintah daerah maupun masyarakat luas untuk memahami dinamika fisik dan sosial wilayah secara lebih mendalam.

Di samping mengasah kemampuan teknis, para mahasiswa juga berinteraksi langsung dengan warga lokal demi mendapatkan data sosial-ekonomi yang valid. Hubungan Masyarakat KKL 3 KPJ 2023, Mulky Djati Sabila, menambahkan bahwa hasil penelitian ini kini sedang memasuki tahap finalisasi laporan. Tim peneliti berencana mendiseminasikan temuan ini secara luas, termasuk melalui media sosial, agar dapat diakses publik dengan mudah.

Dengan adanya kontribusi riset dari civitas akademika UGM ini, diharapkan tercipta sinergi yang lebih erat antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah. Langkah ini menjadi momentum penting dalam mendorong pemanfaatan teknologi spasial untuk perumusan kebijakan pembangunan Lombok Tengah yang berkelanjutan.