Sektor pengolahan dan manufaktur menunjukkan resiliensi yang signifikan sepanjang kuartal kedua tahun 2026. Berdasarkan data terbaru dari Kantor Statistik Umum, mayoritas pelaku usaha melaporkan kondisi operasional yang stabil hingga membaik. Sebanyak 79,7% perusahaan menyatakan kinerja mereka lebih positif dibandingkan kuartal sebelumnya, sementara optimisme untuk kuartal ketiga diproyeksikan terus meningkat dengan tingkat keyakinan mencapai 83,4%.

Sektor elektronik dan komponen optik menjadi motor penggerak utama pertumbuhan dengan lonjakan pesanan baru sebesar 41,7%. Industri tekstil pun turut menunjukkan pemulihan melalui peningkatan volume produksi. Kendati demikian, tidak seluruh sektor menikmati tren ini; industri furnitur dan pengolahan kayu masih bergulat dengan penurunan pesanan, baik di pasar domestik maupun ekspor yang menekan keberlangsungan bisnis mereka.

Di balik angka pertumbuhan tersebut, tantangan sistemik tetap membayangi para pelaku usaha. Tekanan persaingan barang domestik yang ketat menjadi kendala utama bagi 50,6% perusahaan, disusul dengan rendahnya permintaan pasar serta beban bunga pinjaman yang kian membebani struktur biaya. Kondisi ini membuat perusahaan di sektor strategis seperti farmasi dan minuman merasa tertekan oleh biaya input yang fluktuatif.

Menanggapi hambatan tersebut, kalangan pengusaha kini menaruh harapan besar pada intervensi kebijakan pemerintah. Sebanyak 46,9% pelaku bisnis mendesak adanya langkah konkret dalam menstabilkan harga bahan baku dan energi. Selain itu, relaksasi suku bunga pinjaman serta penyederhanaan prosedur administratif menjadi poin krusial yang diharapkan dapat memberikan ruang bernapas bagi industri untuk terus berekspansi di tengah tantangan ekonomi global.